Sabtu, 21 November 2020

Interaksi Edukatif Antara Guru Dan Murid Dalam Perspektif Islam

 Ebing Karmiza

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Kecenderungan manusia untuk berhubungan akan selalu melahirkan komunikasi dua arah melalui bahasa yang mengandung tindakan dan perbuatan. Karena ada aksi dan reaksi, maka dalam kehidupan semacam inilah interaksipun terjadi. Karena itu interaksi akan terjadi bila ada hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih.1 Dengan demikian kegiatan hidup manusia akan selalu dibarengi dengan proses interaksi atau komunikasi, baik interaksi dengan alam lingkungan, interaksi dengan sesamanya, maupun interaksi dengan Tuhannya, baik itu disengaja maupun tidak disengaja[1].Pendidikan merupakan sebagian dari fenomena interaksi kehidupan sosial manusia. Menurut K.J. Veeger pada hakekatnya kehidupan sosial itu terdiri dari jumlah aksi dan reaksi yang tidak terbilang banyaknya, baik antara  perorangan  maupun  antara  kelompok.  Pihak-pihak  yang  terlibat menyesuaikan diri dengan salah satu pola yang kolektif. Kesatuan yang berasal dari penyesuaian diri itu disebut kelompok atau masyarakat. Oleh karenannya pendidikan merupakan bagian dari interaksi sosial yang telah ada bersamaan dengan kehidupan manusia[2].

Guru adalah pengajar yang mendidik, yang tugasnya tidak saja mengajar bidang studi yang sesuai dengan keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik generasi muda bangsa. Sebagai pendidik, ia memusatkan perhatian pada kepribadian siswa, khususnya berkenaan dengan kebangkitan belajar. Kebangkitan belajar tersebut merupakan wujud emansipasi diri siswa. Sebagai guru yang pengajar, ia bertugas mengelola kegiatan belajar siswa di sekolah. (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 248). Sekolah dipandang sebagai wadah pertemuan antara guru dengan murid, proses transformasi nilai-nilai budaya, pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan pengembangan nilai-nilai budaya. Kehadiran dan keberadaan sekolah sebagai suatu sub sistem masyarakat yang berfungsi mentransformasikan nilai-nilai dari generasi tua kepada generasi muda bisa dilihat dari berbagai  sudut pandang atau pendekatan. Sekolah harus menerima sumber yang cukup, mengkoordinasikan terhadap tuntutan lingkungan, menentukan dan mengimplementasikan tujuan, memperlihatkan solidaritas kesatuan diantara siswa, guru dan, administrator, mempertahankan, memelihara pola motivasi dan kebudayaan iklim sekolah[3].

Peranan pendidik dalam kaitannya dengan anak didik tampak bermacam-macam berdasarkan interaksdi sosial edukatif yang dihadapinya. Interaksi sosial edukatif adalah interaksi formal dalam proses belajar mengajar di dalam kelas maupun di luar kelas. Dalam perspektif pedagogik, anak didik memiliki sejumlah potensi yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Karena anak didik membutuhkan pendidikan  agar anak didik menjadi manusia yang terdidik. Anak didik memiliki potensi akal yang harus dikembangkan agar menjadi kekuatan sebagai manusia yang bersusila dan berkecakapan sebagai modal dikehidupan nyata. Maka dalam makalah ini akan dibahas masalah interaksi edukatif khususnya dalam perspektif Islam [4]. Hal ini terlepas dari bahwa kitab suci al-Qur’an yang diturunkan sebagai pedoman dan pemberi petunjuk bagi umat Islam, jadi penulis berpendapat bahwa kiranya tepat jika menkaji interaksi edukatif dikupas juga dalam sudut pandang Islam.

B.  Rumusan Masalah

Berdasarkan  latar belakang masalah yang telah diutarakan di atas, adapun rumusan yang masalah yang akan ditulis adalah sebagai berikut:

1.    Apakah definisi interaksi edukatif?

2.    Bagaimanakah interaksi edukatif  dalam Islam?

C.  Tujuan Penulisan

Dari rumusan maslah tersebut maka tujuan penulisan makah ini adalah:

1.    Untuk mengetahui definisi interaksi edukatif

2.    Untuk mengetahui interaksi edukatif dalam Islam

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Interaksi Edukatif

1.  Definisi Interaksi Edukatif

Interaksi adalah hubungan yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok manusia maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial merupakan bentuk utama dari proses sosial, yang mana proses sosial itu adalah pengaruh timbal balik antara berbagai bidang kehidupan bersama yang terdiri dari beberapa segi yaitu kehidupan ekonomi, politik, hukum dan sebagainya.

pengertian pendidikan secara umum yaitu usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan, baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan yang mana pendidikan itu menjadi kebutuhan mutlak manusia yang harus dipenuhi sepanjang hayat.

Menurut H. Bonner sebagaimana yang dikutip Abu Ahmadi, berpendapat bahwa yang dimaksud dengan interaksi ialah suatu hubungan antara dua individu atau lebih di mana tingkah laku individu yang satu mempengaruhi, mengubah, dan memperbaiki individu yang lain. Begitu juga sebaliknya[5]

 

Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran (Sardiman AM.,2001,1) dalam arti yang lebih spesifik pada bidang pengajaran,dikenal adanya istilah interaksi belajar mengajar.Dengan kata lain interkasi edukatif adalah sebagai interkasi belajar mengajar. Interaksi belajar mengajar mengandung suatu arti adanya kegiatan interaksi dari tenaga pengajar yang melaksanakan tugas mengajar dan adanya anak didik sebagai warga belajar, dimana dalam interaksi itu pengajar mampu memberikan dan mengembangkan motivasi serta reinforcement kepada siswa agar dapat melakukan kegiatan belajar secara optimal.

Situasi  interaksi adalah situasi hubungan sosial,maka dapat dikatakan bahwa manusia itu memasyarakatkan diri atau dengan perkataan lain manusia membudidayakan diri dan permasyarakatan,pembudayaan ini tidak akan ada hibis-habisnya sampai akhir zaman.

2. Definisi Kelompok (group)

Beberapa definisi kelompok banyak diungkapkan para ahli, diantaranya antara lain:[6]

Menurut  joseph S. Roucek bahwa suatu kelompok meliputi dua atau lebih manusia yang diantara mereka trdapat beberapa pola interaksi yang dapat dipahami para  annggotanya atau orang lain secara keseluruhan. Menurut Mayor polak mengatakan bahwa kelompok sosial adalah suatu group, yaitu sejumlah orang yang ada hubungan antara satu dengan yang yang ada hubungan antara satu dengan yang lain dan hubungan itu bersifat sebagai sebuah struktur. Wila Huki (1989) menuturkan kelompok  merupakan suatu unit yang terdiri dari dua orang atau lebih rang atau lebih, yang saling berinteraksi atau saling berkomunikasi.

            Jadi dapat diungkapkan bahwa kelompok (group) menurut persfektif sosiologi adalah sekumpulan dua orang atau lebih lebih yang saling berinteraksi dan terjadi hubungan timbal balik di mana mereka merasa menjadi bagian dari kelompok tersebut. Kelompok sosia dan terjadi hubungan timbal balik di mana mereka merasa menjadi bagian dari kelompok tersebut.

Kelompok sosial dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bentuk. Hal ini sangat berundapat diklasifikasikan menjadi beberapa bentuk. Hal ini sangat bergantung dari sudut pandang ahli yang bersangkutan. Ada ahli yang memandang dari sudut terbentuknya, ada juga yan dari sudut pandang ahli yang bersangkutan. Ada ahli yang memandang dari sudut terbentuknya, ada juga yang memandang dari tinjauan kekuatan sosial menjadi kelompok kekerabatan, kelompok primer dan n, kelompok primer dan kelompok sekunder, gemeinschaft dan gessellshaft, kelompok formal dan nonformal dan membership, dan reference, dan reference group.[7]

Kumanto Sunarto (2004) menyebutkan berbagai klasifikasi klompok sosial dari beberapa pakar. Biersted membedakan empat jenis kelompok sosial berdasarkan ada tidaknya organisasi, hubungan sosial antara anggota kelompok, dan kesadaran jenis, yaitu kelompok statistik, kelompok kemasyarakatan, kelompok sosial, dan kelompok asosiasi.

Merton mengungkapkan kelompok merupakan sekelompok orang yang saling berinteraksi sesuai pola yang telah mapan, sedangkan kolektiva merupakan orang yang mempun saling berinteraksi sesuai pola yang telah mapan, sedangkan kolektiva merupakan orang yang mempunyai rasa solideritas karena untuk menjalankan berbagai nilai bersama dan dan yang telah memiliki rasa kewajiban moral untuk menjalankan harapan peran. Konsep lain yang diajukan Merton ialah konsep kategori sosial.

Durkheim membedakan antara kelompok yang didasarkan pada solidaritas mekanik dan kelompok yang didasarkan pada solidaritas organik. Masih sederhana, sedangkan solidaritas organis merupakan bentuk solidaritas yang sangat kompleks yang telah kenal pembagian kerja yang rinci dan dipersatukan oleh kesalingtergantungan antara bagian. Tonnies mengadakan pembedaan antara ukan oleh kesalingtergantungan antara bagian. Tonnies mengadakan pembedaan antara dua jenis kelompok, yang dinamakan gemeinschaft dan gesellschaft. Gemeinschaft digambarkan sebagai kehidupan bersama yang intim, pribadi, dan eksklusif, yakni suatu keterikatan yang dibawa sejak lahir. Kelompok ini dibagi ke dalam tiga jenis: gemeinschaft by blood, gemeinschaft of place, gemeinschaft of mind. Gesellschaft merupakan kehidupan publik, yang terdiri atas orang yang kebetulan hadir bersama, tetapi masing-masing tetep mandiri dan bersifat sementara dan semu[8].

Cooley memperkenalkan konsep kelompok primer. Sebagai lawannya, sejumlah ahli sosiologi menciptkan kelompok sekunder. Suatu klasifikasi lain, yaitu pembedaan antara kelompok dalam dan kelompok luar, didasarkan pada pemikiran summer. Summer mengemukakan bahwa di kalangan antara anggota kelompok dalam dijumpai persahabatan, kerjasama, keteraturan, dan kedamaian. Sedangkan interaksi antara kelompok dalam dan kelompok luar cenderun ditndai kebencian, permusuhan, perang, dan perampokan. Marton mengamati bahwa kadang-kadang prilaku seseorang tidak mengacu pada kelompoknya yang di dalamnya dimana yang bersangkutan menjadi anggota, melainkan pada kelompok lain. Dikala seorang berubah keanggotaan kelompok, kemudian memberikannya dengan nama sosialisasi antisipatris. Persons memperkenalkan perangkat variabel pola. Menurut Persons variabel pola merupakan seperangkat dilema universal yang dihadapi dan harus dipecahkan  seorang pelaku dalam setiap situasi sosial.[9]

Secara umum organisai dapat didefinisikan sebagai kelompok manusia yang berkumpul dalam suatu wadah yang mempunyai tujuan sama, dan bekerja untuk mencapai tujuan itu. Organisasi merupakan unit sosial yang dengan sengaja diciptakan dengan arti bahwa pada saat tertentu telah diambil suatu keputusan untuk mendirikan sebuah sekolah guna memudahkan pengajarn sejumlah mata pelajaran yang beraneka ragam.

Sekolah juga dibentuk kembali dalam arti bahwa setiap orang-orang berhubungan satu sama lain dalam konteks sekolah; ada yang mengajar, ada yang berusaha payah untuk belajar, ada yang membersihkan ruangan, menyediakan makanan, atau melakukan berbagai sekolah, philip Robinson(1987;238), mengungkapkan sekolah sebagai suatu organisasi. Meskipun sekolah merupakan benda yang sudah tidak asing lagi bagi kita semua, colleg-colleg bagi orang banyak, kemampuan kita untuk menjelaskan dan menggeneralisasikan cara kerjanya dengan cara agak mendalam masih dibatasi kekurangan-kekurangan dalam analisis[10].

Kemajuan suatu negara tidak lepas dari suatu kualitas pendidikan pada negara itu, suatu bangsa yang terbelakang dalam kualitas pendidikan merupakan salah satu faktor kendala untuk bangkit dari kemiskinan. Pengalaman dari banyak negara maju di dunia, ternyata pembangunan sektor pendidikan menjadi prioritas utama dalam kebijakan pembangunan. Dengan kata lain, jika suatu negara ingin menjadi diperhitungkan keberadaan di tengah masyarakat, pendidikan haruslah  menjadi perhitungan dalam program pembangunan.

     3. Interaksi Edukatif Anak Didik

Dalam perspektif pedagogik, anak didik memiliki sejumlah potensi yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan dan pembeajaran di sekolah. Kebutuhan anak didik atas pendidikan disebut homo educandum. Potensi anak didik yang bersifat laten tersebut perlu diaktuaisasikan agar anak didik tidak disebut lagi sebgai animal educable, sejenis binatang yang menginginkan dididik, tetapi harus sebagai manusia secara mutlak, karena anak didik memang manusia,. Sebagai manusia, anak didik memiliki potensi akal yang harus dikembangkan agar menjadi kekuatan sebagai manusia yang bersusila dan berkecakapan sebagai modal kehidupan nyata.

Sebagai manusia, anak didik memiliki karakteristik, seperti dikatakan Imam Barnadib, et.al. dalam Djamarah (2005), anak didik memiliki sejumlah karakteristik; belum memiliki pribadi dewasa susila sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik; masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya, sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik; memiliki sifat-sifat dasar manusia yang sedang berkembang secara terpadu, yaitu kebuhan biologis, rohani, sosial, intelegensi, emosi, kemampuan berbicara, anggota tubuh untuk bekerja (kaki, tangan, dan jari), latar belakang biologis, (warna kulit, bentuk tubuh, dan lain sebagainya), serta perbedaan individual.

 Davidman (1981) menekankan bahwa cara beljar anak didik adalah cara anak didik mengatur lingkungan yang mereka tertarik. Anak usia dewasa termotivasi unuk belajar pada topik tertentu karena situasi kehidupan mereka membutuhkan suatu yang ingin diketahui, dan mereka mengembangkan suatu topik yang dianggap menarik. Apa yang dipelajari anak pada usia ini adalah berdasarkan pengalaman sekarang. Anak usia dewasa memilih suatu topik berdasarkan latar belakang pengalaman pada suatu bidang, yang sering kali menjadi pertibangan untuk sukses. Anak usia ini juga sering kali berorientasi pada petunjuk sediri dalam belajar. Perbedaan individu antar anak didik, dalam pengetahuan mereka, cara dan kompetensi, meningkat dengan umur.

Karenanya dalam melaksanakan interaksi edukatif dalam pembelajaran, seorang pendidik perlu memahami karakteristik anak didik. Kegagalan  menciptakan interksi edukatif yang kondusif, berawal dari munculnya pemahaman pendidik terhadap karakteristik anak didik. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dalam peroses pembelajaran tidak akan berlangsung sempurna bila minimnya pemahaman pendidik tentang karakteristik anak didik.

B.  Interaksi Edukatif dalam Perspektif Islam

1.    Interaksi Edukatif dalam Al-Qur’an

Dalam al-Qur’an salah satu ayat yang menjelaskan tentang interaksi edukatif yaitu dalam Surat Al- Kahfi : 71-76

فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِي ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَاۖ قَالَ أَخَرَقۡتَهَا لِتُغۡرِقَ أَهۡلَهَا لَقَدۡ جِئۡتَ شَيۡ‍ًٔا إِمۡرٗا ٧١ قَالَ أَلَمۡ أَقُلۡ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا ٧٢ قَالَ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرۡهِقۡنِي مِنۡ أَمۡرِي عُسۡرٗا ٧٣ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمٗا فَقَتَلَهُۥ قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا زَكِيَّةَۢ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡ‍ٔٗا نُّكۡرٗا ٧٤ ۞قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا ٧٥ قَالَ إِن سَأَلۡتُكَ عَن شَيۡءِۢ بَعۡدَهَا فَلَا تُصَٰحِبۡنِيۖ قَدۡ بَلَغۡتَ مِن لَّدُنِّي عُذۡرٗا ٧٦

 

Artinya: Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah aku telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku".. Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku". Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, Maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena Dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar". Khidhr berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?. Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, Maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, Sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku".

 

Tidak ada asbabun nuzul dari ayat ini, akan  tetapi terdapat riwayat yang menjelaskan tentang kisah awal cerita ini. Dari Ubay bin Ka’ab bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Musa berdiri menyampaikan khutbahnya kepada Bani Israel. Kemudian ia ditanya siapakah orang paling alim (pintar)? Musa menjawab, ‘Akulah orangnya’. Maka, Allah pun menyalahkannya karena ia belum mengetahui ilmu tentang itu.

Kemudian Allah mewahyukan kepadanya bahwa ada seorang hamba yang berada di tempat pertemuan dua laut yang lebih alim daripadanya. Musa berkata, “Bagaimana aku menemuinya?” Allah berfirman, ‘Bawalah bersamamu seekor ikan yang diletakkan di sebuah keranjang dari daun kurma. Di manapun ikan itu hilang, di situlah kamu menemukannya.

Munasabah antara ayat 60-70 dengan ayat 71-76 adalah secara umum kisah dalam ayat-ayat tersebut merupakan satu kesatuan cerita yang saling melengkapi dan berkaitan satu sama lain, dalam Al-Kahfi ayat 60-70 menjelaskan tentang pola hubungan guru dan murid periode awal dan pada Al-Kahfi ayat 71-76 ini menjelaskan tentang pola hubungan guru dan murid periode yang kedua, di mana nabi Musa sudah mengikuti Khidir untuk belajar.

2.      Pola Hubungan Guru dan Murid dalam Perspetif Al-Qur’an

Pola hubungan guru dan murid adalah suatu bentuk interaksi yang terjadi antara guru sebagai pendidik dan murid sebagai peserta. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Dari pengertian ini, penulis menyimpulkan bahwa pendidik dan peserta didik harus memiliki pola hubungan yang baik, agar tujuan pendidikan yang direncanakan dapat tercapai.

Berdasarkan surat Al-Kahfi ayat 71-76 di atas, hemat penulis, otoritas guru adalah:

a.       Memberi perintah atau tugas dalam rangka pembelajaran

b.      Memberika hukuman secara bijaksana kepada murid, dalam rangka kegiatan pembelajaran.

Dari rangkaian kisah yang termaktub terdapat beberapa Ibrah yang menarik apabila dikaitkan dengan pendidikan, yaitu sebagai berikut:

a.       Hendaknya seorang murid bersikap patuh terhadap perintah guru.

b.      Perbuatan Khidir dan Penilaian Musa merupakan gambaran : Suatu masalah yang sama jika dilihat darisudut pandang berbeda akan melahirkan pemahaman dan penilaian berbeda pula. Oleh sebab itu, secara langsung Khidir mengajarkan kepada Musa agar menilai dirinya bukan dengan paradigma hukum, tetapi harus menggunakan paradigma bathiniyah.

c.       Seorang murid harus memiliki kesadaran diri. Dalam arti, ketika ia berbuat salah, seharusnya ia segera menyadari kesalahannya dan meminta maaf pada gurunya dengan memperlihatkan kesungguhanya dalam bertobat.

d.      Kisah tersebut merupakan seruan kepada guru agar dalam mengingatkan muridnya dilakukan secara bijaksana.

e.       Ketika seorang murid melakukan pelanggaran, hukuman yag diberikan harus disesuaikan dengan pelanggarannya. Dalam hal ini, ketika terjadi pelanggaran pertama, Khidir mengingatkan dengan ucapan lemah lembut. Ketika terjadi pelanggaran yang kedua, Khidir mengingatkan musa dengan agak keras dengan ditambahkan kata Laka dan ketika terjadi pelanggaran ketiga, Khidir menghukum musa dengan perpisahan, namun demikian ia pun memberikan penjelasan (rahasia, hikmah) semua yang terjadi.

f.        Guru hendaknya bersikap sabar dalam mendidik muridnya[11].

3.      Keterkaitan Hikmah dari al-Qur’an dengan Teori Pendidikan

Adapun keterkaitan ibrah dari al-Qur’an dengan teori pendidikan sekarang yaitu. Pertama, Ibn Jama’ah menjelaskan, seorang murid harus mematuhi, memuliakan, menghormati, membantu dan menerima segala keputusan guru.Berkaitan dengan Qs. Al-Kahfi: 72-75. Kedua, Muhammad Athiyah al-Abrasyi menjelaskan, murid harus memiliki hubungan yang harmonis dengan gurunya dan harus menyenangkan hati guru. Hal ini berkaitan dengan Qs. Al-Kahfi: 76. Ketiga,  Imam al-Ghazali menjelaskan, pendidik hendaknya seorang yang manusiawi, humanis, demokratis, terbuka, adil, jujur, berpihak pada kebenaran, menjunjung tinggi ahlak mulia. Berkaitan dengan ibrah Qs. Al-Kahfi: 72-75 yang merupakan seruan kepada guru agar dalam mengingatkan muridnya dilakukan secara bijaksana dan memberikan hukuman kepada murid sesuai dengan pelanggarannya. Keempat, Menurut Abuddin Nata, pendidik merupakan aktor utama yang merencanakan, menyiapkan, dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Ia berfungsi tidak saja dalam mengembangkan bakat, minat, wawasan, dan keterampilan, melainkan juga pengalaman dan kepribadian peserta didik, hal ini berkaitan dengan Qs. Al-Kahfi: 72-75.


 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk melaksanakan tujuan pendidikan dan pengajaran atau lebih dikenal dengan istilah interaksi belajar mengajar. Interaksi edukatif hanya bisa tercipta apabila seorang pendidik memenuhi kompetensi dan profesionalisme dalam proses pembelajaran juga memahami latar belakang anak didik.

Adapun keterkaitan al-Qur’an dengan teori pendidikan sekarang yaitu seorang murid harus mematuhi, memuliakan, menghormati, membantu dan menerima segala keputusan guru, murid harus memiliki hubungan yang harmonis dengan gurunya dan harus menyenangkan hati guru, pendidik hendaknya seorang yang manusiawi, humanis, demokratis, terbuka, adil, jujur, berpihak pada kebenaran, menjunjung tinggi ahlak mulia dan pendidik merupakan aktor utama yang merencanakan, menyiapkan, dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Ia berfungsi tidak saja dalam mengembangkan bakat, minat, wawasan, dan keterampilan, melainkan juga pengalaman dan kepribadian peserta didik.

 



[1] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis, Jakarta, P.T Rineka Cipta, 2005, hlm, 10

[2] Miftahul Huda, Interaksi Pendidikan 10 Cara Quran Mendidik Anak, (Malang: UIN Malang Press, 2008, hlm, 1

[3] Imam Gunawan, Fungsi Guru dalam Kegiatan Pembelajaran, diakses 4 Oktober 2018 Pubul 21.00 Wib dari http://masimamgun.blogspot.com/2016/09/fungsi-guru-dalam-kelas.html

[4] Hamidah Anan, Interaksi Edukatif di Sekolah, diakse 4 Oktober 2018 Pukul 22.00 Wib dari  http://hamidahmenulis.blogspot.com/2013/01/interaksi-edukatif-di-sekolah_31.html

[5] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, Surabaya, Bina Ilmu, 1982, Cet. Ke-4, hlm, 42.

 

[6] Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan, Jakarta,Rajawali Pers, 2011, hlm. 117.

 

[7]Abul Syani, Sosiologi, Skematika, Teori, dan Terapan, Jakarta: Bumi aksara, 2007, hlm, 105.

[8]Pengertian Solidaritas Mekanik dan Organik Beserta contohnya, diakses 4 Oktober 2018 pukukl 23.00 Wib dari http://www.definisimenurutparaahli.com/pengertian-solidaritas-mekanik-dan-organik-beserta-contohnya/

[9] Jujuk Irawan, Klasifikasi Berdasarkan Kelompok Primer dan Sekunder dikases pada tanggal 4 Oktober 2018 Pukul 23.30 Wib dari https://jujuknet.blogspot.com/2016/09/tugas-sosiologi-klasifikasi-berdasarkan.html

[10] Hardiyati Herman, Sekolah Sebagai Sistem Sosial dan Tujuan Sosial, diakses pada tanggal 4 Oktober 2018 Pukul 24.00 Wib dari  http://hardiyantiherman.blogspot.com/p/sosiologi-pendidikan.html

[11]Uswatun Hasanah, Pola Hubungan Guru dan Murid, diakses 5 Oktober 2018 Pukul 21.00 Wib http://uswatunhasanah1812.blogspot.com/2014/10/pola-hubungan-guru-murid-perspektif-al_16.html