Pernahkah Anda merasa bahwa sekolah modern terkadang lebih menyerupai lini produksi pabrik daripada taman persemaian jiwa? Di tengah arus globalisasi yang didorong oleh fundamentalisme pasar, pendidikan kita sering kali terjebak dalam disfungsi yang akut—bergeser dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi sekadar pendidikan sebagai komoditas. Siswa diproses melalui standardisasi yang kaku, dilabeli angka-angka akademik, dan dipersiapkan hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja. Dalam kevakuman industrial ini, pendidikan kehilangan "ruh"-nya. Untuk menemukan kembali martabat belajar, kita harus menukik kembali ke akar filsafat yang mendalam, menyatukan pedagogi kritis Paulo Freire dengan kebijaksanaan kultural Ki Hadjar Dewantara.
1. Pendidikan adalah Nafas "Humanisasi" di Tengah Standardisasi
Pendidikan sejati bukanlah sekadar transfer scientia yang bersifat pragmatis-materialis. Berdasarkan sintesis pemikiran Paulo Freire dan Ki Hadjar Dewantara (KHD), hakikat pendidikan adalah proses Humanisasi. Freire memberikan kita Concientizacao (kesadaran kritis) sebagai alat untuk memutus rantai dehumanisasi akibat sistem yang menindas, sementara KHD menghadirkan Sistem Among sebagai jangkar budaya agar proses pemerdekaan tersebut tidak terjebak dalam globalisme yang kehilangan identitas.
Orientasi yang hanya mengejar skor akademik tanpa kedalaman moral adalah bentuk dehumanisasi, di mana siswa diperlakukan sebagai objek, bukan subjek yang memiliki Ontologi sebagai manusia utuh. Pendidikan harus menginternalisasikan nilai-nilai luhur agar anak tumbuh dalam garis kodratnya sendiri.
"Pendidikan adalah usaha kebudayaan yang bermaksud memberikan bimbingan dalam hidup tumbuhnya jiwa raga anak didik agar dalam garis-garis kodrat pribadinya serta pengaruh-pengaruh lingkungan, mendapat kemajuan hidup lahir batin."
2. Mengakhiri Penindasan "Pendidikan Gaya Bank"
Kritik tajam Paulo Freire terhadap Bank-model of education (Pendidikan Gaya Bank) mengungkapkan realitas di mana guru bertindak sebagai "penabung" informasi dan murid hanya menjadi "bejana" pasif. Model ini adalah penolakan mutlak terhadap Eksistensi siswa; ia membunuh daya cipta dan menjadikan pendidikan sebagai alat penjinakan sosial demi kepentingan status quo.
Sebagai antitesis, kita membutuhkan Pendidikan Hadap-Masalah (Problem-Facing Education). Di sini, pendidikan menjadi dialog yang membebaskan, di mana guru tidak lagi mendominasi melainkan hadir dalam Hubungan Aku-Kamu yang intim dan setara.
- Guru Dominan: Pemegang otoritas tunggal yang memperlakukan siswa sebagai bejana kosong (objek).
- Guru sebagai Pendamping: Fasilitator yang menghadirkan realitas dunia sebagai tantangan kolektif, membangun ruang dialogis untuk mencari kebenaran bersama (subjek).
3. Ontologi Kebebasan: Melawan Arus "Pendidikan Massal"
Dalam perspektif eksistensialisme, pendidikan harus menghormati Ontologi manusia sebagai individu yang merdeka dan otentik. Kita harus berani menolak pendidikan massal yang memprioritaskan efisiensi industri di atas keunikan personal. Kurikulum modern, seperti Kurikulum Merdeka, pada dasarnya adalah upaya memberikan ruang bagi siswa untuk memilih "jalan hidupnya sendiri"—sebuah bentuk penghormatan terhadap martabat manusia yang memikul tanggung jawab atas pilihannya.
Menghargai eksistensi siswa berarti memandang mereka sebagai subjek yang sedang "menjadi," bukan produk jadi yang siap dikonsumsi pasar. Kebebasan ini bukanlah anarki, melainkan kedaulatan diri untuk menciptakan makna di tengah dunia yang makin kompleks.
"Manusia merupakan individu yang penuh kebebasan dalam bertindak. Manusia diakui keberadaannya karena eksistensinya dalam melakukan berbagai hal."
4. Estetika "Sistem Among" dan Filter Globalisasi Teori Trikon
Ki Hadjar Dewantara menawarkan pendekatan yang jauh melampaui teknis instruksional. Beliau memadukan Progresivisme yang membebaskan dengan Esensialisme yang menjaga akar budaya. Pada tahap usia dini (Taman Indria), KHD menekankan metode Tri No (Nonton, Niteni, Nirokke) sebagai cara panca indera menangkap kebaikan. Saat anak beranjak dewasa, prosesnya meningkat menjadi Tri Nga (Ngerti, Ngroso, Nglakoni) demi keseimbangan intelektual, rasa, dan tindakan nyata.
Untuk bertahan dari disrupsi global, KHD merumuskan Teori Trikon sebagai strategi filter kebudayaan:
- Kontinyu: Pengembangan harus berkesinambungan dengan akar budaya nasional secara konsisten.
- Konvergen: Terbuka terhadap nilai-nilai Barat atau luar secara selektif dan adaptif, mengambil yang baik demi kemanusiaan universal tanpa harus membebek.
- Konsentris: Meskipun bersatu dalam alam universal, pendidikan harus tetap berputar pada pusat kepribadian dan identitas nasional kita sendiri.
5. Tri Pusat Pendidikan: Merajut Kembali Budi Pekerti
Pendidikan tidak boleh hanya dikurung di dalam empat dinding kelas. Konsep Tri Pusat Pendidikan menegaskan bahwa tanggung jawab ini terbagi secara sinergis antara Keluarga, Alam Perguruan (Sekolah), dan Alam Pemuda (Masyarakat).
Di era digital ini, sinergi tersebut menjadi krusial. Alam Keluarga harus dikembalikan fungsinya sebagai sumber utama pendidikan Budi Pekerti dan moralitas, sementara sekolah berfokus pada pengembangan intelektual. Tanpa keterlibatan aktif masyarakat dan integritas keluarga, sekolah hanya akan menjadi agen transfer ilmu yang kering dan impersonal. Sinergi ketiganya adalah satu-satunya jalan untuk mencetak individu yang tangguh lahir dan batin.
Penutup: Menjemput Ruh Pendidikan yang Membebaskan
Masa depan pendidikan kita tidak terletak pada kecanggihan teknologi semata, melainkan pada keberanian kita untuk mengembalikan "ruh" kemanusiaan ke dalam setiap proses belajar. Melalui peningkatan kesadaran kritis (Concientizacao), kita tidak sedang sekadar mencetak lulusan, melainkan sedang membentuk manusia yang Merdeka lahir dan batin—manusia yang mampu mengatur dirinya sendiri dengan tetap menghormati ketertiban umum.
Jika sekolah adalah cermin masa depan, apakah kita sedang membangun masyarakat yang memiliki kedaulatan intelektual, atau sekadar memperluas lini produksi robot-robot patuh yang kehilangan identitas budayanya?
.png)
