Jumat, 20 Februari 2026

Sekolah Bukan Pabrik: 5 Rahasia Filosofis di Balik Masa Depan Pendidikan Kita

 

Dr. Ebing Karmiza, A.Ma, S.Ud, S.E, M.Si

Pernahkah Anda merasa bahwa sekolah modern terkadang lebih menyerupai lini produksi pabrik daripada taman persemaian jiwa? Di tengah arus globalisasi yang didorong oleh fundamentalisme pasar, pendidikan kita sering kali terjebak dalam disfungsi yang akut—bergeser dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi sekadar pendidikan sebagai komoditas. Siswa diproses melalui standardisasi yang kaku, dilabeli angka-angka akademik, dan dipersiapkan hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja. Dalam kevakuman industrial ini, pendidikan kehilangan "ruh"-nya. Untuk menemukan kembali martabat belajar, kita harus menukik kembali ke akar filsafat yang mendalam, menyatukan pedagogi kritis Paulo Freire dengan kebijaksanaan kultural Ki Hadjar Dewantara.

1. Pendidikan adalah Nafas "Humanisasi" di Tengah Standardisasi

Pendidikan sejati bukanlah sekadar transfer scientia yang bersifat pragmatis-materialis. Berdasarkan sintesis pemikiran Paulo Freire dan Ki Hadjar Dewantara (KHD), hakikat pendidikan adalah proses Humanisasi. Freire memberikan kita Concientizacao (kesadaran kritis) sebagai alat untuk memutus rantai dehumanisasi akibat sistem yang menindas, sementara KHD menghadirkan Sistem Among sebagai jangkar budaya agar proses pemerdekaan tersebut tidak terjebak dalam globalisme yang kehilangan identitas.

Orientasi yang hanya mengejar skor akademik tanpa kedalaman moral adalah bentuk dehumanisasi, di mana siswa diperlakukan sebagai objek, bukan subjek yang memiliki Ontologi sebagai manusia utuh. Pendidikan harus menginternalisasikan nilai-nilai luhur agar anak tumbuh dalam garis kodratnya sendiri.

"Pendidikan adalah usaha kebudayaan yang bermaksud memberikan bimbingan dalam hidup tumbuhnya jiwa raga anak didik agar dalam garis-garis kodrat pribadinya serta pengaruh-pengaruh lingkungan, mendapat kemajuan hidup lahir batin."

2. Mengakhiri Penindasan "Pendidikan Gaya Bank"

Kritik tajam Paulo Freire terhadap Bank-model of education (Pendidikan Gaya Bank) mengungkapkan realitas di mana guru bertindak sebagai "penabung" informasi dan murid hanya menjadi "bejana" pasif. Model ini adalah penolakan mutlak terhadap Eksistensi siswa; ia membunuh daya cipta dan menjadikan pendidikan sebagai alat penjinakan sosial demi kepentingan status quo.

Sebagai antitesis, kita membutuhkan Pendidikan Hadap-Masalah (Problem-Facing Education). Di sini, pendidikan menjadi dialog yang membebaskan, di mana guru tidak lagi mendominasi melainkan hadir dalam Hubungan Aku-Kamu yang intim dan setara.

  • Guru Dominan: Pemegang otoritas tunggal yang memperlakukan siswa sebagai bejana kosong (objek).
  • Guru sebagai Pendamping: Fasilitator yang menghadirkan realitas dunia sebagai tantangan kolektif, membangun ruang dialogis untuk mencari kebenaran bersama (subjek).

3. Ontologi Kebebasan: Melawan Arus "Pendidikan Massal"

Dalam perspektif eksistensialisme, pendidikan harus menghormati Ontologi manusia sebagai individu yang merdeka dan otentik. Kita harus berani menolak pendidikan massal yang memprioritaskan efisiensi industri di atas keunikan personal. Kurikulum modern, seperti Kurikulum Merdeka, pada dasarnya adalah upaya memberikan ruang bagi siswa untuk memilih "jalan hidupnya sendiri"—sebuah bentuk penghormatan terhadap martabat manusia yang memikul tanggung jawab atas pilihannya.

Menghargai eksistensi siswa berarti memandang mereka sebagai subjek yang sedang "menjadi," bukan produk jadi yang siap dikonsumsi pasar. Kebebasan ini bukanlah anarki, melainkan kedaulatan diri untuk menciptakan makna di tengah dunia yang makin kompleks.

"Manusia merupakan individu yang penuh kebebasan dalam bertindak. Manusia diakui keberadaannya karena eksistensinya dalam melakukan berbagai hal."

4. Estetika "Sistem Among" dan Filter Globalisasi Teori Trikon

Ki Hadjar Dewantara menawarkan pendekatan yang jauh melampaui teknis instruksional. Beliau memadukan Progresivisme yang membebaskan dengan Esensialisme yang menjaga akar budaya. Pada tahap usia dini (Taman Indria), KHD menekankan metode Tri No (Nonton, Niteni, Nirokke) sebagai cara panca indera menangkap kebaikan. Saat anak beranjak dewasa, prosesnya meningkat menjadi Tri Nga (Ngerti, Ngroso, Nglakoni) demi keseimbangan intelektual, rasa, dan tindakan nyata.

Untuk bertahan dari disrupsi global, KHD merumuskan Teori Trikon sebagai strategi filter kebudayaan:

  • Kontinyu: Pengembangan harus berkesinambungan dengan akar budaya nasional secara konsisten.
  • Konvergen: Terbuka terhadap nilai-nilai Barat atau luar secara selektif dan adaptif, mengambil yang baik demi kemanusiaan universal tanpa harus membebek.
  • Konsentris: Meskipun bersatu dalam alam universal, pendidikan harus tetap berputar pada pusat kepribadian dan identitas nasional kita sendiri.

5. Tri Pusat Pendidikan: Merajut Kembali Budi Pekerti

Pendidikan tidak boleh hanya dikurung di dalam empat dinding kelas. Konsep Tri Pusat Pendidikan menegaskan bahwa tanggung jawab ini terbagi secara sinergis antara Keluarga, Alam Perguruan (Sekolah), dan Alam Pemuda (Masyarakat).

Di era digital ini, sinergi tersebut menjadi krusial. Alam Keluarga harus dikembalikan fungsinya sebagai sumber utama pendidikan Budi Pekerti dan moralitas, sementara sekolah berfokus pada pengembangan intelektual. Tanpa keterlibatan aktif masyarakat dan integritas keluarga, sekolah hanya akan menjadi agen transfer ilmu yang kering dan impersonal. Sinergi ketiganya adalah satu-satunya jalan untuk mencetak individu yang tangguh lahir dan batin.

Penutup: Menjemput Ruh Pendidikan yang Membebaskan

Masa depan pendidikan kita tidak terletak pada kecanggihan teknologi semata, melainkan pada keberanian kita untuk mengembalikan "ruh" kemanusiaan ke dalam setiap proses belajar. Melalui peningkatan kesadaran kritis (Concientizacao), kita tidak sedang sekadar mencetak lulusan, melainkan sedang membentuk manusia yang Merdeka lahir dan batin—manusia yang mampu mengatur dirinya sendiri dengan tetap menghormati ketertiban umum.

Jika sekolah adalah cermin masa depan, apakah kita sedang membangun masyarakat yang memiliki kedaulatan intelektual, atau sekadar memperluas lini produksi robot-robot patuh yang kehilangan identitas budayanya?

Dari Romawi Kuno hingga Era Digital: 6 Rahasia Tersembunyi tentang Pendidikan dan Kemanusiaan yang Sering Kita Lupakan

 Dr. Ebing Karmiza, A.Ma, S.Ud, S.E, M.Si


Pendidikan hari ini sedang mengalami krisis makna yang akut. Di tengah deru mesin industrialisasi dan obsesi terhadap angka akreditasi, sekolah sering kali terjebak menjadi sekadar pabrik yang memproduksi tenaga kerja, bukan manusia seutuhnya. Kita terjebak dalam sistem yang mekanistik, di mana kualitas diukur melalui skor kompetensi teknis, sementara jiwa dari pendidikan itu sendiri kian tergerus.
Padahal, jika kita bersedia menengok kembali ke cakrawala sejarah—dari tradisi humanitas Romawi hingga kedalaman teologi spiritual—terdapat kunci-kunci yang hilang untuk memulihkan martabat kemanusiaan kita. Artikel ini akan membedah bagaimana nilai-nilai kuno, strategi retorika klasik, dan kemandirian finansial dapat menjadi kompas bagi kita untuk keluar dari labirin komersialisasi pendidikan yang menyesatkan.
1. Humanitas Romana: Akar Kemanusiaan yang Lebih Tua dari Hak Asasi Modern
Jauh sebelum deklarasi hak asasi manusia modern dikumandangkan, peradaban Romawi telah meletakkan fondasi melalui konsep humanitas Romana. Konsep ini menggabungkan dua belahan yang harmonis: "kebaikan hati" (goodness/mercy) dan "instruksi budaya" (education/culture). Pendidikan elit Romawi bukan sekadar transfer informasi, melainkan pembentukan kapasitas manusia untuk bertindak beradab dan terdidik melalui pelatihan yang matang.
Manifestasi paling nyata dari evolusi humanitas ini terjadi pada masa Kaisar Konstantinus Agung. Melalui Edictum Mediolanense (Edik Milan) pada tahun 313 M, Konstantinus tidak sekadar melegalisasi Kekristenan, melainkan menerapkan prinsip humanitas untuk menciptakan toleransi universal dan ekuitas beragama. Ia mengubah strategi religius negara dari penindasan menuju harmoni, membuktikan bahwa pendidikan yang humanis mampu melahirkan konektivitas global.
"humanitas memberikan kita kunci untuk memahami universalisme dan multikulturalisme yang dibuktikan oleh Roma kuno." — Iulian-Gabriel Hruşcă.
Refleksi: Konsep ini mengingatkan kita bahwa multikulturalisme hari ini bukanlah sekadar hidup berdampingan, melainkan kapasitas untuk memahami "liyan" melalui lensa budaya yang beradab. Tanpa humanitas, keberagaman hanya akan menjadi pemicu benturan kepentingan, bukan integrasi peradaban.
2. Utilitas Publica: Musuh Tersembunyi Nilai Kemanusiaan
Dalam sejarah Romawi, terdapat istilah utilitas publica atau kepentingan publik/negara yang sering kali bertindak sebagai "rem" (brake) bagi aspirasi luhur humanitas. Ketika negara merasa terancam, nilai-nilai kemanusiaan sering kali dikorbankan demi stabilitas ekonomi atau politik. Inilah yang menyebabkan para martir Kristen ditindas pada masa lalu; mereka dianggap sebagai elemen destabilisasi yang merusak ketaatan terhadap utilitas publica.
Di era modern, mekanisme pengerem nilai kemanusiaan ini telah bermutasi menjadi kepentingan komersial. Jika dahulu penindasan dilakukan atas nama "stabilitas negara," hari ini kemanusiaan sering kali dikesampingkan demi "efisiensi pasar." Pendidikan dipaksa tunduk pada logika laba yang sempit, mengulangi kesalahan Romawi kuno dengan mengorbankan etika demi kemanfaatan ekonomi yang pragmatis.
Refleksi: Kita harus waspada terhadap kecenderungan mengagungkan "kepentingan publik" jika hal itu berarti mengabaikan kebenaran absolut dan martabat individu. Saat pendidikan terlalu patuh pada pasar, ia kehilangan keberaniannya untuk membela nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat abadi.
3. Kapitalisasi Pendidikan: Saat Siswa Menjadi "Konsumen"
Transisi pendidikan menjadi komoditas pasar telah mengubah wajah institusi sekolah menjadi entitas bisnis. Fenomena kapitalisasi ini memaksakan logika persaingan bebas dan profitabilitas ke dalam ruang kelas. Salah satu kritik tajam yang muncul adalah penggunaan standar ISO (International Standardization Organization) dalam institusi pendidikan Islam. ISO, yang lahir dari rahim manajemen industri, memperlakukan pendidikan sebagai "jasa" dan siswa sebagai "pelanggan" (customer).
Pandangan ini secara fundamental bertabrakan dengan etos pendidikan Islam yang menekankan konsep adab dan takzim. Dalam ISO, kepuasan pelanggan adalah supremasi; namun dalam tradisi keilmuan, hubungan guru-murid didasarkan pada kasih sayang dan penghormatan spiritual yang tak bisa dinilai dengan transaksi material. Dampak negatif dari komersialisasi ini meliputi:
• Kesenjangan Sosial yang Terstruktur: Kualitas pendidikan menjadi barang mewah yang hanya bisa diakses oleh mereka yang mampu membayar mahal.
• Dehumanisasi Proses Belajar: Pendidikan menjadi mekanistik, hanya mengejar sertifikasi yang bernilai ekonomi tinggi namun hampa karakter.
• Erosi Hubungan Guru-Murid: Hilangnya nilai keikhlasan karena peran guru bergeser menjadi sekadar "penyedia jasa" yang tunduk pada protes "konsumen."
4. Fondasi Martin Luther: Mengapa Aturan Saja Tidak Cukup
Pendidikan karakter sering kali gagal karena hanya menyentuh permukaan—sekadar perubahan perilaku luar melalui tekanan moral. Martin Luther memberikan kritik tajam bahwa kehendak manusia sesungguhnya berada dalam "Perbudakan Kehendak" (Bondage of the Will) oleh natur dosa. Baginya, pendidikan karakter sekuler yang bersifat pragmatis-eksperimentalis hanya akan melelahkan jiwa karena mencoba memperbaiki buah tanpa menyembuhkan akarnya.
Luther memperkenalkan konsep "Pembenaran oleh Iman" (Justification by Faith). Perubahan karakter yang sejati harus bersifat intrinsik melalui "kelahiran baru" secara spiritual. Manusia berada dalam kondisi Simul Justus et Peccator—secara bersamaan adalah orang benar sekaligus orang berdosa. Tanpa pembaruan batiniah yang supranatural, pendidikan karakter hanya menjadi beban moral yang superfisial.
• Karakter Alamiah: Didorong oleh tekanan eksternal dan ketaatan terhadap aturan yang melelahkan jiwa.
• Karakter Spiritual: Berasal dari perubahan batin oleh anugerah Allah, menghasilkan buah kebaikan secara alami sebagai wujud iman.
5. Retorika Aristoteles: Senjata Rahasia Komunikasi di Era Digital
Dalam dunia digital yang bising, pesan yang benar sering kali tenggelam jika tidak disampaikan dengan strategi komunikasi yang mumpuni. Retorika klasik Aristoteles tetap menjadi senjata paling relevan untuk menyentuh hati audiens modern. Namun, di era media sosial, tiga pilar utamanya harus diadaptasi:
1. Ethos (Kredibilitas): Di masa kini, ethos mencakup jejak digital dan integritas yang terlihat secara konsisten. Tanpa kredibilitas, informasi sehebat apa pun hanya akan dianggap sebagai sampah informasi.
2. Pathos (Emosi): Komunikasi harus mampu membangun narasi visual dan simbolik yang menggugah empati. Di tengah distraksi, sentuhan emosional adalah jembatan untuk menarik perhatian audiens.
3. Logos (Logika): Struktur argumen harus tetap kokoh dan berbasis fakta agar mampu bertahan di tengah arus hoaks dan narasi yang menyesatkan.
Refleksi: Dalam menyampaikan kebenaran atau dakwah, "bagaimana" kita berbicara kini sama krusialnya dengan "apa" yang kita bicarakan. Retorika adalah seni memanusiakan komunikasi agar pesan tidak sekadar menjadi data, melainkan transformasi.
6. Kemandirian Finansial melalui Wakaf Produktif: Solusi Melawan Pasar
Agar lembaga pendidikan tidak tunduk pada tekanan komersial, kemandirian ekonomi adalah mutlak. Tradisi Islam menawarkan solusi melalui pengelolaan dana Ziswaf (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf), khususnya dalam bentuk Wakaf Produktif. Melalui pengelolaan aset yang menghasilkan nilai ekonomi, lembaga pendidikan dapat menjamin kualitas tanpa membebani siswa secara berlebihan.
Beberapa contoh sukses yang membuktikan bahwa integritas moral dapat dijaga melalui kemandirian finansial adalah:
• Pondok Modern Gontor: Mengelola unit-unit usaha Wakaf Produktif seperti SPBU, apotek, pabrik roti, dan pertanian yang hasilnya digunakan untuk kesejahteraan guru dan fasilitas tanpa menggantungkan biaya pada santri.
• Al-Azhar Mesir: Menggunakan dana wakaf untuk memberikan akses pendidikan luas, beasiswa internasional, dan pemeliharaan fasilitas secara mandiri selama berabad-abad.
• Dompet Dhuafa: Melalui sekolah SMART Ekselensia yang menggratiskan biaya pendidikan bagi siswa berpotensi namun kurang mampu dengan dana umat yang dikelola secara profesional.
Penutup: Menuju Pendidikan yang Memanusiakan Manusia
Pendidikan yang ideal adalah simfoni antara nilai humanitas yang inklusif, etika spiritual yang berakar pada pembaruan batin, dan strategi komunikasi yang tulus. Kita harus berani melakukan reorientasi—mengembalikan pendidikan dari sekadar instrumen ekonomi menjadi sarana pembentukan peradaban (ta'dīb). Kemandirian finansial melalui Wakaf Produktif adalah benteng pertahanan terakhir agar institusi pendidikan tidak kehilangan jiwanya di hadapan pasar.
"Jika pendidikan hanya menghasilkan tenaga kerja namun kehilangan jiwanya, peradaban seperti apa yang sebenarnya sedang kita bangun?"
Hanya dengan memadukan kecerdasan intelektual, kemandirian ekonomi, dan karakter spiritual yang lahir dari kedalaman iman, kita dapat melahirkan generasi yang tidak hanya mahir bekerja, tetapi juga kaya akan nilai kemanusiaan dan keilahian. Perjalanan kembali ke akar kemanusiaan ini bukanlah kemunduran, melainkan langkah maju yang paling berani di tengah era digital yang kian gersang akan makna.