Dr. Ebing Karmiza, A.Ma, S.Ud, S.E, M.Si
Pendidikan hari ini sedang mengalami krisis makna yang akut. Di tengah deru mesin industrialisasi dan obsesi terhadap angka akreditasi, sekolah sering kali terjebak menjadi sekadar pabrik yang memproduksi tenaga kerja, bukan manusia seutuhnya. Kita terjebak dalam sistem yang mekanistik, di mana kualitas diukur melalui skor kompetensi teknis, sementara jiwa dari pendidikan itu sendiri kian tergerus.
Padahal, jika kita bersedia menengok kembali ke cakrawala sejarah—dari tradisi humanitas Romawi hingga kedalaman teologi spiritual—terdapat kunci-kunci yang hilang untuk memulihkan martabat kemanusiaan kita. Artikel ini akan membedah bagaimana nilai-nilai kuno, strategi retorika klasik, dan kemandirian finansial dapat menjadi kompas bagi kita untuk keluar dari labirin komersialisasi pendidikan yang menyesatkan.
1. Humanitas Romana: Akar Kemanusiaan yang Lebih Tua dari Hak Asasi Modern
Jauh sebelum deklarasi hak asasi manusia modern dikumandangkan, peradaban Romawi telah meletakkan fondasi melalui konsep humanitas Romana. Konsep ini menggabungkan dua belahan yang harmonis: "kebaikan hati" (goodness/mercy) dan "instruksi budaya" (education/culture). Pendidikan elit Romawi bukan sekadar transfer informasi, melainkan pembentukan kapasitas manusia untuk bertindak beradab dan terdidik melalui pelatihan yang matang.
Manifestasi paling nyata dari evolusi humanitas ini terjadi pada masa Kaisar Konstantinus Agung. Melalui Edictum Mediolanense (Edik Milan) pada tahun 313 M, Konstantinus tidak sekadar melegalisasi Kekristenan, melainkan menerapkan prinsip humanitas untuk menciptakan toleransi universal dan ekuitas beragama. Ia mengubah strategi religius negara dari penindasan menuju harmoni, membuktikan bahwa pendidikan yang humanis mampu melahirkan konektivitas global.
"humanitas memberikan kita kunci untuk memahami universalisme dan multikulturalisme yang dibuktikan oleh Roma kuno." — Iulian-Gabriel Hruşcă.
Refleksi: Konsep ini mengingatkan kita bahwa multikulturalisme hari ini bukanlah sekadar hidup berdampingan, melainkan kapasitas untuk memahami "liyan" melalui lensa budaya yang beradab. Tanpa humanitas, keberagaman hanya akan menjadi pemicu benturan kepentingan, bukan integrasi peradaban.
2. Utilitas Publica: Musuh Tersembunyi Nilai Kemanusiaan
Dalam sejarah Romawi, terdapat istilah utilitas publica atau kepentingan publik/negara yang sering kali bertindak sebagai "rem" (brake) bagi aspirasi luhur humanitas. Ketika negara merasa terancam, nilai-nilai kemanusiaan sering kali dikorbankan demi stabilitas ekonomi atau politik. Inilah yang menyebabkan para martir Kristen ditindas pada masa lalu; mereka dianggap sebagai elemen destabilisasi yang merusak ketaatan terhadap utilitas publica.
Di era modern, mekanisme pengerem nilai kemanusiaan ini telah bermutasi menjadi kepentingan komersial. Jika dahulu penindasan dilakukan atas nama "stabilitas negara," hari ini kemanusiaan sering kali dikesampingkan demi "efisiensi pasar." Pendidikan dipaksa tunduk pada logika laba yang sempit, mengulangi kesalahan Romawi kuno dengan mengorbankan etika demi kemanfaatan ekonomi yang pragmatis.
Refleksi: Kita harus waspada terhadap kecenderungan mengagungkan "kepentingan publik" jika hal itu berarti mengabaikan kebenaran absolut dan martabat individu. Saat pendidikan terlalu patuh pada pasar, ia kehilangan keberaniannya untuk membela nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat abadi.
3. Kapitalisasi Pendidikan: Saat Siswa Menjadi "Konsumen"
Transisi pendidikan menjadi komoditas pasar telah mengubah wajah institusi sekolah menjadi entitas bisnis. Fenomena kapitalisasi ini memaksakan logika persaingan bebas dan profitabilitas ke dalam ruang kelas. Salah satu kritik tajam yang muncul adalah penggunaan standar ISO (International Standardization Organization) dalam institusi pendidikan Islam. ISO, yang lahir dari rahim manajemen industri, memperlakukan pendidikan sebagai "jasa" dan siswa sebagai "pelanggan" (customer).
Pandangan ini secara fundamental bertabrakan dengan etos pendidikan Islam yang menekankan konsep adab dan takzim. Dalam ISO, kepuasan pelanggan adalah supremasi; namun dalam tradisi keilmuan, hubungan guru-murid didasarkan pada kasih sayang dan penghormatan spiritual yang tak bisa dinilai dengan transaksi material. Dampak negatif dari komersialisasi ini meliputi:
• Kesenjangan Sosial yang Terstruktur: Kualitas pendidikan menjadi barang mewah yang hanya bisa diakses oleh mereka yang mampu membayar mahal.
• Dehumanisasi Proses Belajar: Pendidikan menjadi mekanistik, hanya mengejar sertifikasi yang bernilai ekonomi tinggi namun hampa karakter.
• Erosi Hubungan Guru-Murid: Hilangnya nilai keikhlasan karena peran guru bergeser menjadi sekadar "penyedia jasa" yang tunduk pada protes "konsumen."
4. Fondasi Martin Luther: Mengapa Aturan Saja Tidak Cukup
Pendidikan karakter sering kali gagal karena hanya menyentuh permukaan—sekadar perubahan perilaku luar melalui tekanan moral. Martin Luther memberikan kritik tajam bahwa kehendak manusia sesungguhnya berada dalam "Perbudakan Kehendak" (Bondage of the Will) oleh natur dosa. Baginya, pendidikan karakter sekuler yang bersifat pragmatis-eksperimentalis hanya akan melelahkan jiwa karena mencoba memperbaiki buah tanpa menyembuhkan akarnya.
Luther memperkenalkan konsep "Pembenaran oleh Iman" (Justification by Faith). Perubahan karakter yang sejati harus bersifat intrinsik melalui "kelahiran baru" secara spiritual. Manusia berada dalam kondisi Simul Justus et Peccator—secara bersamaan adalah orang benar sekaligus orang berdosa. Tanpa pembaruan batiniah yang supranatural, pendidikan karakter hanya menjadi beban moral yang superfisial.
• Karakter Alamiah: Didorong oleh tekanan eksternal dan ketaatan terhadap aturan yang melelahkan jiwa.
• Karakter Spiritual: Berasal dari perubahan batin oleh anugerah Allah, menghasilkan buah kebaikan secara alami sebagai wujud iman.
5. Retorika Aristoteles: Senjata Rahasia Komunikasi di Era Digital
Dalam dunia digital yang bising, pesan yang benar sering kali tenggelam jika tidak disampaikan dengan strategi komunikasi yang mumpuni. Retorika klasik Aristoteles tetap menjadi senjata paling relevan untuk menyentuh hati audiens modern. Namun, di era media sosial, tiga pilar utamanya harus diadaptasi:
1. Ethos (Kredibilitas): Di masa kini, ethos mencakup jejak digital dan integritas yang terlihat secara konsisten. Tanpa kredibilitas, informasi sehebat apa pun hanya akan dianggap sebagai sampah informasi.
2. Pathos (Emosi): Komunikasi harus mampu membangun narasi visual dan simbolik yang menggugah empati. Di tengah distraksi, sentuhan emosional adalah jembatan untuk menarik perhatian audiens.
3. Logos (Logika): Struktur argumen harus tetap kokoh dan berbasis fakta agar mampu bertahan di tengah arus hoaks dan narasi yang menyesatkan.
Refleksi: Dalam menyampaikan kebenaran atau dakwah, "bagaimana" kita berbicara kini sama krusialnya dengan "apa" yang kita bicarakan. Retorika adalah seni memanusiakan komunikasi agar pesan tidak sekadar menjadi data, melainkan transformasi.
6. Kemandirian Finansial melalui Wakaf Produktif: Solusi Melawan Pasar
Agar lembaga pendidikan tidak tunduk pada tekanan komersial, kemandirian ekonomi adalah mutlak. Tradisi Islam menawarkan solusi melalui pengelolaan dana Ziswaf (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf), khususnya dalam bentuk Wakaf Produktif. Melalui pengelolaan aset yang menghasilkan nilai ekonomi, lembaga pendidikan dapat menjamin kualitas tanpa membebani siswa secara berlebihan.
Beberapa contoh sukses yang membuktikan bahwa integritas moral dapat dijaga melalui kemandirian finansial adalah:
• Pondok Modern Gontor: Mengelola unit-unit usaha Wakaf Produktif seperti SPBU, apotek, pabrik roti, dan pertanian yang hasilnya digunakan untuk kesejahteraan guru dan fasilitas tanpa menggantungkan biaya pada santri.
• Al-Azhar Mesir: Menggunakan dana wakaf untuk memberikan akses pendidikan luas, beasiswa internasional, dan pemeliharaan fasilitas secara mandiri selama berabad-abad.
• Dompet Dhuafa: Melalui sekolah SMART Ekselensia yang menggratiskan biaya pendidikan bagi siswa berpotensi namun kurang mampu dengan dana umat yang dikelola secara profesional.
Penutup: Menuju Pendidikan yang Memanusiakan Manusia
Pendidikan yang ideal adalah simfoni antara nilai humanitas yang inklusif, etika spiritual yang berakar pada pembaruan batin, dan strategi komunikasi yang tulus. Kita harus berani melakukan reorientasi—mengembalikan pendidikan dari sekadar instrumen ekonomi menjadi sarana pembentukan peradaban (ta'dīb). Kemandirian finansial melalui Wakaf Produktif adalah benteng pertahanan terakhir agar institusi pendidikan tidak kehilangan jiwanya di hadapan pasar.
"Jika pendidikan hanya menghasilkan tenaga kerja namun kehilangan jiwanya, peradaban seperti apa yang sebenarnya sedang kita bangun?"
Hanya dengan memadukan kecerdasan intelektual, kemandirian ekonomi, dan karakter spiritual yang lahir dari kedalaman iman, kita dapat melahirkan generasi yang tidak hanya mahir bekerja, tetapi juga kaya akan nilai kemanusiaan dan keilahian. Perjalanan kembali ke akar kemanusiaan ini bukanlah kemunduran, melainkan langkah maju yang paling berani di tengah era digital yang kian gersang akan makna.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar