Jumat, 20 Februari 2026

Sekolah Bukan Pabrik: 5 Rahasia Filosofis di Balik Masa Depan Pendidikan Kita

 

Dr. Ebing Karmiza, A.Ma, S.Ud, S.E, M.Si

Pernahkah Anda merasa bahwa sekolah modern terkadang lebih menyerupai lini produksi pabrik daripada taman persemaian jiwa? Di tengah arus globalisasi yang didorong oleh fundamentalisme pasar, pendidikan kita sering kali terjebak dalam disfungsi yang akut—bergeser dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi sekadar pendidikan sebagai komoditas. Siswa diproses melalui standardisasi yang kaku, dilabeli angka-angka akademik, dan dipersiapkan hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja. Dalam kevakuman industrial ini, pendidikan kehilangan "ruh"-nya. Untuk menemukan kembali martabat belajar, kita harus menukik kembali ke akar filsafat yang mendalam, menyatukan pedagogi kritis Paulo Freire dengan kebijaksanaan kultural Ki Hadjar Dewantara.

1. Pendidikan adalah Nafas "Humanisasi" di Tengah Standardisasi

Pendidikan sejati bukanlah sekadar transfer scientia yang bersifat pragmatis-materialis. Berdasarkan sintesis pemikiran Paulo Freire dan Ki Hadjar Dewantara (KHD), hakikat pendidikan adalah proses Humanisasi. Freire memberikan kita Concientizacao (kesadaran kritis) sebagai alat untuk memutus rantai dehumanisasi akibat sistem yang menindas, sementara KHD menghadirkan Sistem Among sebagai jangkar budaya agar proses pemerdekaan tersebut tidak terjebak dalam globalisme yang kehilangan identitas.

Orientasi yang hanya mengejar skor akademik tanpa kedalaman moral adalah bentuk dehumanisasi, di mana siswa diperlakukan sebagai objek, bukan subjek yang memiliki Ontologi sebagai manusia utuh. Pendidikan harus menginternalisasikan nilai-nilai luhur agar anak tumbuh dalam garis kodratnya sendiri.

"Pendidikan adalah usaha kebudayaan yang bermaksud memberikan bimbingan dalam hidup tumbuhnya jiwa raga anak didik agar dalam garis-garis kodrat pribadinya serta pengaruh-pengaruh lingkungan, mendapat kemajuan hidup lahir batin."

2. Mengakhiri Penindasan "Pendidikan Gaya Bank"

Kritik tajam Paulo Freire terhadap Bank-model of education (Pendidikan Gaya Bank) mengungkapkan realitas di mana guru bertindak sebagai "penabung" informasi dan murid hanya menjadi "bejana" pasif. Model ini adalah penolakan mutlak terhadap Eksistensi siswa; ia membunuh daya cipta dan menjadikan pendidikan sebagai alat penjinakan sosial demi kepentingan status quo.

Sebagai antitesis, kita membutuhkan Pendidikan Hadap-Masalah (Problem-Facing Education). Di sini, pendidikan menjadi dialog yang membebaskan, di mana guru tidak lagi mendominasi melainkan hadir dalam Hubungan Aku-Kamu yang intim dan setara.

  • Guru Dominan: Pemegang otoritas tunggal yang memperlakukan siswa sebagai bejana kosong (objek).
  • Guru sebagai Pendamping: Fasilitator yang menghadirkan realitas dunia sebagai tantangan kolektif, membangun ruang dialogis untuk mencari kebenaran bersama (subjek).

3. Ontologi Kebebasan: Melawan Arus "Pendidikan Massal"

Dalam perspektif eksistensialisme, pendidikan harus menghormati Ontologi manusia sebagai individu yang merdeka dan otentik. Kita harus berani menolak pendidikan massal yang memprioritaskan efisiensi industri di atas keunikan personal. Kurikulum modern, seperti Kurikulum Merdeka, pada dasarnya adalah upaya memberikan ruang bagi siswa untuk memilih "jalan hidupnya sendiri"—sebuah bentuk penghormatan terhadap martabat manusia yang memikul tanggung jawab atas pilihannya.

Menghargai eksistensi siswa berarti memandang mereka sebagai subjek yang sedang "menjadi," bukan produk jadi yang siap dikonsumsi pasar. Kebebasan ini bukanlah anarki, melainkan kedaulatan diri untuk menciptakan makna di tengah dunia yang makin kompleks.

"Manusia merupakan individu yang penuh kebebasan dalam bertindak. Manusia diakui keberadaannya karena eksistensinya dalam melakukan berbagai hal."

4. Estetika "Sistem Among" dan Filter Globalisasi Teori Trikon

Ki Hadjar Dewantara menawarkan pendekatan yang jauh melampaui teknis instruksional. Beliau memadukan Progresivisme yang membebaskan dengan Esensialisme yang menjaga akar budaya. Pada tahap usia dini (Taman Indria), KHD menekankan metode Tri No (Nonton, Niteni, Nirokke) sebagai cara panca indera menangkap kebaikan. Saat anak beranjak dewasa, prosesnya meningkat menjadi Tri Nga (Ngerti, Ngroso, Nglakoni) demi keseimbangan intelektual, rasa, dan tindakan nyata.

Untuk bertahan dari disrupsi global, KHD merumuskan Teori Trikon sebagai strategi filter kebudayaan:

  • Kontinyu: Pengembangan harus berkesinambungan dengan akar budaya nasional secara konsisten.
  • Konvergen: Terbuka terhadap nilai-nilai Barat atau luar secara selektif dan adaptif, mengambil yang baik demi kemanusiaan universal tanpa harus membebek.
  • Konsentris: Meskipun bersatu dalam alam universal, pendidikan harus tetap berputar pada pusat kepribadian dan identitas nasional kita sendiri.

5. Tri Pusat Pendidikan: Merajut Kembali Budi Pekerti

Pendidikan tidak boleh hanya dikurung di dalam empat dinding kelas. Konsep Tri Pusat Pendidikan menegaskan bahwa tanggung jawab ini terbagi secara sinergis antara Keluarga, Alam Perguruan (Sekolah), dan Alam Pemuda (Masyarakat).

Di era digital ini, sinergi tersebut menjadi krusial. Alam Keluarga harus dikembalikan fungsinya sebagai sumber utama pendidikan Budi Pekerti dan moralitas, sementara sekolah berfokus pada pengembangan intelektual. Tanpa keterlibatan aktif masyarakat dan integritas keluarga, sekolah hanya akan menjadi agen transfer ilmu yang kering dan impersonal. Sinergi ketiganya adalah satu-satunya jalan untuk mencetak individu yang tangguh lahir dan batin.

Penutup: Menjemput Ruh Pendidikan yang Membebaskan

Masa depan pendidikan kita tidak terletak pada kecanggihan teknologi semata, melainkan pada keberanian kita untuk mengembalikan "ruh" kemanusiaan ke dalam setiap proses belajar. Melalui peningkatan kesadaran kritis (Concientizacao), kita tidak sedang sekadar mencetak lulusan, melainkan sedang membentuk manusia yang Merdeka lahir dan batin—manusia yang mampu mengatur dirinya sendiri dengan tetap menghormati ketertiban umum.

Jika sekolah adalah cermin masa depan, apakah kita sedang membangun masyarakat yang memiliki kedaulatan intelektual, atau sekadar memperluas lini produksi robot-robot patuh yang kehilangan identitas budayanya?

Dari Romawi Kuno hingga Era Digital: 6 Rahasia Tersembunyi tentang Pendidikan dan Kemanusiaan yang Sering Kita Lupakan

 Dr. Ebing Karmiza, A.Ma, S.Ud, S.E, M.Si


Pendidikan hari ini sedang mengalami krisis makna yang akut. Di tengah deru mesin industrialisasi dan obsesi terhadap angka akreditasi, sekolah sering kali terjebak menjadi sekadar pabrik yang memproduksi tenaga kerja, bukan manusia seutuhnya. Kita terjebak dalam sistem yang mekanistik, di mana kualitas diukur melalui skor kompetensi teknis, sementara jiwa dari pendidikan itu sendiri kian tergerus.
Padahal, jika kita bersedia menengok kembali ke cakrawala sejarah—dari tradisi humanitas Romawi hingga kedalaman teologi spiritual—terdapat kunci-kunci yang hilang untuk memulihkan martabat kemanusiaan kita. Artikel ini akan membedah bagaimana nilai-nilai kuno, strategi retorika klasik, dan kemandirian finansial dapat menjadi kompas bagi kita untuk keluar dari labirin komersialisasi pendidikan yang menyesatkan.
1. Humanitas Romana: Akar Kemanusiaan yang Lebih Tua dari Hak Asasi Modern
Jauh sebelum deklarasi hak asasi manusia modern dikumandangkan, peradaban Romawi telah meletakkan fondasi melalui konsep humanitas Romana. Konsep ini menggabungkan dua belahan yang harmonis: "kebaikan hati" (goodness/mercy) dan "instruksi budaya" (education/culture). Pendidikan elit Romawi bukan sekadar transfer informasi, melainkan pembentukan kapasitas manusia untuk bertindak beradab dan terdidik melalui pelatihan yang matang.
Manifestasi paling nyata dari evolusi humanitas ini terjadi pada masa Kaisar Konstantinus Agung. Melalui Edictum Mediolanense (Edik Milan) pada tahun 313 M, Konstantinus tidak sekadar melegalisasi Kekristenan, melainkan menerapkan prinsip humanitas untuk menciptakan toleransi universal dan ekuitas beragama. Ia mengubah strategi religius negara dari penindasan menuju harmoni, membuktikan bahwa pendidikan yang humanis mampu melahirkan konektivitas global.
"humanitas memberikan kita kunci untuk memahami universalisme dan multikulturalisme yang dibuktikan oleh Roma kuno." — Iulian-Gabriel Hruşcă.
Refleksi: Konsep ini mengingatkan kita bahwa multikulturalisme hari ini bukanlah sekadar hidup berdampingan, melainkan kapasitas untuk memahami "liyan" melalui lensa budaya yang beradab. Tanpa humanitas, keberagaman hanya akan menjadi pemicu benturan kepentingan, bukan integrasi peradaban.
2. Utilitas Publica: Musuh Tersembunyi Nilai Kemanusiaan
Dalam sejarah Romawi, terdapat istilah utilitas publica atau kepentingan publik/negara yang sering kali bertindak sebagai "rem" (brake) bagi aspirasi luhur humanitas. Ketika negara merasa terancam, nilai-nilai kemanusiaan sering kali dikorbankan demi stabilitas ekonomi atau politik. Inilah yang menyebabkan para martir Kristen ditindas pada masa lalu; mereka dianggap sebagai elemen destabilisasi yang merusak ketaatan terhadap utilitas publica.
Di era modern, mekanisme pengerem nilai kemanusiaan ini telah bermutasi menjadi kepentingan komersial. Jika dahulu penindasan dilakukan atas nama "stabilitas negara," hari ini kemanusiaan sering kali dikesampingkan demi "efisiensi pasar." Pendidikan dipaksa tunduk pada logika laba yang sempit, mengulangi kesalahan Romawi kuno dengan mengorbankan etika demi kemanfaatan ekonomi yang pragmatis.
Refleksi: Kita harus waspada terhadap kecenderungan mengagungkan "kepentingan publik" jika hal itu berarti mengabaikan kebenaran absolut dan martabat individu. Saat pendidikan terlalu patuh pada pasar, ia kehilangan keberaniannya untuk membela nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat abadi.
3. Kapitalisasi Pendidikan: Saat Siswa Menjadi "Konsumen"
Transisi pendidikan menjadi komoditas pasar telah mengubah wajah institusi sekolah menjadi entitas bisnis. Fenomena kapitalisasi ini memaksakan logika persaingan bebas dan profitabilitas ke dalam ruang kelas. Salah satu kritik tajam yang muncul adalah penggunaan standar ISO (International Standardization Organization) dalam institusi pendidikan Islam. ISO, yang lahir dari rahim manajemen industri, memperlakukan pendidikan sebagai "jasa" dan siswa sebagai "pelanggan" (customer).
Pandangan ini secara fundamental bertabrakan dengan etos pendidikan Islam yang menekankan konsep adab dan takzim. Dalam ISO, kepuasan pelanggan adalah supremasi; namun dalam tradisi keilmuan, hubungan guru-murid didasarkan pada kasih sayang dan penghormatan spiritual yang tak bisa dinilai dengan transaksi material. Dampak negatif dari komersialisasi ini meliputi:
• Kesenjangan Sosial yang Terstruktur: Kualitas pendidikan menjadi barang mewah yang hanya bisa diakses oleh mereka yang mampu membayar mahal.
• Dehumanisasi Proses Belajar: Pendidikan menjadi mekanistik, hanya mengejar sertifikasi yang bernilai ekonomi tinggi namun hampa karakter.
• Erosi Hubungan Guru-Murid: Hilangnya nilai keikhlasan karena peran guru bergeser menjadi sekadar "penyedia jasa" yang tunduk pada protes "konsumen."
4. Fondasi Martin Luther: Mengapa Aturan Saja Tidak Cukup
Pendidikan karakter sering kali gagal karena hanya menyentuh permukaan—sekadar perubahan perilaku luar melalui tekanan moral. Martin Luther memberikan kritik tajam bahwa kehendak manusia sesungguhnya berada dalam "Perbudakan Kehendak" (Bondage of the Will) oleh natur dosa. Baginya, pendidikan karakter sekuler yang bersifat pragmatis-eksperimentalis hanya akan melelahkan jiwa karena mencoba memperbaiki buah tanpa menyembuhkan akarnya.
Luther memperkenalkan konsep "Pembenaran oleh Iman" (Justification by Faith). Perubahan karakter yang sejati harus bersifat intrinsik melalui "kelahiran baru" secara spiritual. Manusia berada dalam kondisi Simul Justus et Peccator—secara bersamaan adalah orang benar sekaligus orang berdosa. Tanpa pembaruan batiniah yang supranatural, pendidikan karakter hanya menjadi beban moral yang superfisial.
• Karakter Alamiah: Didorong oleh tekanan eksternal dan ketaatan terhadap aturan yang melelahkan jiwa.
• Karakter Spiritual: Berasal dari perubahan batin oleh anugerah Allah, menghasilkan buah kebaikan secara alami sebagai wujud iman.
5. Retorika Aristoteles: Senjata Rahasia Komunikasi di Era Digital
Dalam dunia digital yang bising, pesan yang benar sering kali tenggelam jika tidak disampaikan dengan strategi komunikasi yang mumpuni. Retorika klasik Aristoteles tetap menjadi senjata paling relevan untuk menyentuh hati audiens modern. Namun, di era media sosial, tiga pilar utamanya harus diadaptasi:
1. Ethos (Kredibilitas): Di masa kini, ethos mencakup jejak digital dan integritas yang terlihat secara konsisten. Tanpa kredibilitas, informasi sehebat apa pun hanya akan dianggap sebagai sampah informasi.
2. Pathos (Emosi): Komunikasi harus mampu membangun narasi visual dan simbolik yang menggugah empati. Di tengah distraksi, sentuhan emosional adalah jembatan untuk menarik perhatian audiens.
3. Logos (Logika): Struktur argumen harus tetap kokoh dan berbasis fakta agar mampu bertahan di tengah arus hoaks dan narasi yang menyesatkan.
Refleksi: Dalam menyampaikan kebenaran atau dakwah, "bagaimana" kita berbicara kini sama krusialnya dengan "apa" yang kita bicarakan. Retorika adalah seni memanusiakan komunikasi agar pesan tidak sekadar menjadi data, melainkan transformasi.
6. Kemandirian Finansial melalui Wakaf Produktif: Solusi Melawan Pasar
Agar lembaga pendidikan tidak tunduk pada tekanan komersial, kemandirian ekonomi adalah mutlak. Tradisi Islam menawarkan solusi melalui pengelolaan dana Ziswaf (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf), khususnya dalam bentuk Wakaf Produktif. Melalui pengelolaan aset yang menghasilkan nilai ekonomi, lembaga pendidikan dapat menjamin kualitas tanpa membebani siswa secara berlebihan.
Beberapa contoh sukses yang membuktikan bahwa integritas moral dapat dijaga melalui kemandirian finansial adalah:
• Pondok Modern Gontor: Mengelola unit-unit usaha Wakaf Produktif seperti SPBU, apotek, pabrik roti, dan pertanian yang hasilnya digunakan untuk kesejahteraan guru dan fasilitas tanpa menggantungkan biaya pada santri.
• Al-Azhar Mesir: Menggunakan dana wakaf untuk memberikan akses pendidikan luas, beasiswa internasional, dan pemeliharaan fasilitas secara mandiri selama berabad-abad.
• Dompet Dhuafa: Melalui sekolah SMART Ekselensia yang menggratiskan biaya pendidikan bagi siswa berpotensi namun kurang mampu dengan dana umat yang dikelola secara profesional.
Penutup: Menuju Pendidikan yang Memanusiakan Manusia
Pendidikan yang ideal adalah simfoni antara nilai humanitas yang inklusif, etika spiritual yang berakar pada pembaruan batin, dan strategi komunikasi yang tulus. Kita harus berani melakukan reorientasi—mengembalikan pendidikan dari sekadar instrumen ekonomi menjadi sarana pembentukan peradaban (ta'dīb). Kemandirian finansial melalui Wakaf Produktif adalah benteng pertahanan terakhir agar institusi pendidikan tidak kehilangan jiwanya di hadapan pasar.
"Jika pendidikan hanya menghasilkan tenaga kerja namun kehilangan jiwanya, peradaban seperti apa yang sebenarnya sedang kita bangun?"
Hanya dengan memadukan kecerdasan intelektual, kemandirian ekonomi, dan karakter spiritual yang lahir dari kedalaman iman, kita dapat melahirkan generasi yang tidak hanya mahir bekerja, tetapi juga kaya akan nilai kemanusiaan dan keilahian. Perjalanan kembali ke akar kemanusiaan ini bukanlah kemunduran, melainkan langkah maju yang paling berani di tengah era digital yang kian gersang akan makna.

Selasa, 18 November 2025

Hubungan Agama dan Budaya dalam Kehidupan Masyarakat: Budaya Bentuk Ekpresi dari Ajaran Agama

 

Dr. Ebing Karmiza, A.Ma, S.Ud, S.E, M.Si, CHRIM, CRSPO, CVAM, CTC, CPSc



Pendahuluan

Hubungan antara agama dan budaya merupakan bagian fundamental dari kehidupan sosial manusia. Agama memberi dasar moral dan makna spiritual, sedangkan budaya menyediakan pola perilaku, simbol, dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Keduanya tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan saling membentuk, sebagaimana ditegaskan oleh Woodhead (2021) bahwa agama selalu mengambil bentuk dalam konteks budaya, dan budaya memperoleh nilai moral melalui agama. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, interaksi agama dan budaya tampak dalam berbagai ekspresi sosial seperti ritual adat, kesenian, tradisi keagamaan, hingga pranata sosial.

Menurut Abdullah (2020), agama merupakan “sistem makna yang memberi arah bagi tindakan manusia”, sedangkan budaya adalah wadah yang memungkinkan makna itu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, memahami hubungan agama dan budaya tidak hanya penting secara teoritis, tetapi juga penting untuk menjaga harmoni sosial, terutama di masyarakat multikultural. Artikel ini membahas bagaimana kedua unsur tersebut berinteraksi dalam kehidupan sosial, pengaruhnya terhadap identitas kolektif, serta tantangan yang muncul di tengah modernisasi.

Pembahasan

Agama sebagai Sumber Nilai Moral dan Dasar Budaya

Agama berperan sebagai pedoman normatif yang membentuk nilai, etika, dan perilaku masyarakat. Dalam kajian sosiologi terbaru, Durkheimian studies yang diperbarui oleh Pickering (2022) menekankan bahwa agama adalah mekanisme pembentuk solidaritas sosial. Nilai-nilai seperti gotong-royong, kejujuran, dan hormat kepada sesama banyak diperkuat oleh ajaran agama dan kemudian membentuk karakter budaya masyarakat.

Kajian oleh Naimah (2024) dalam Jurnal Moderatio menjelaskan bahwa budaya lokal yang selaras dengan nilai agama cenderung dipertahankan dan diberi makna baru. Misalnya, tradisi sedekah bumi yang awalnya terkait kepercayaan animistik direinterpretasi menjadi bentuk syukur kepada Tuhan sesuai ajaran Islam. Ini menunjukkan bahwa agama tidak menghapus budaya, tetapi menyaring dan menyesuaikannya agar sejalan dengan nilai transendental.

Budaya sebagai Media Ekspresi Keagamaan

Budaya menyediakan bentuk-bentuk simbolik di mana agama diekspresikan. Hal ini ditegaskan oleh Geertz (2020, edisi revisi The Interpretation of Cultures), bahwa praktik keagamaan tidak pernah steril dari budaya karena agama selalu ditampilkan melalui bahasa, ritus, seni, pakaian, dan struktur sosial. Contohnya dapat dilihat dalam perbedaan cara umat Islam berbagai suku merayakan Idul Fitri, perbedaan gaya dakwah di komunitas urban dan rural, atau variasi arsitektur masjid berdasarkan karakter budaya setempat.

Penelitian Anwar & Putra (2023) dalam Journal of Social and Cultural Dynamics juga menunjukkan bagaimana budaya digital saat ini membentuk cara baru berekspresi dalam agama, seperti munculnya dakwah melalui media sosial, komunitas keagamaan daring, dan penggunaan simbol-simbol budaya populer dalam penyebaran pesan religius.

Saling Pengaruh antara Agama dan Budaya dalam Identitas Sosial

Interaksi agama dan budaya membentuk identitas sosial masyarakat. Studi Hermanto (2022) menyatakan bahwa identitas kultural masyarakat Indonesia sebagian besar dibentuk oleh integrasi nilai agama dalam tradisi lokal, sehingga lahirlah identitas yang bersifat religio-kultural. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat menggabungkan tradisi adat dan nilai agama sehingga keduanya menyatu menjadi pedoman hidup.

Fenomena ini tampak jelas dalam ritual adat perkawinan, kelahiran, kematian, atau upacara panen yang menggabungkan doa-doa keagamaan dengan simbol budaya. Harmoni tersebut memperkuat kohesi sosial sebagaimana diungkapkan dalam riset Latif (2021) yang menunjukkan bahwa masyarakat dengan integrasi agama-budaya yang baik memiliki tingkat solidaritas sosial yang lebih tinggi.

Tantangan dalam Hubungan Agama dan Budaya

Meskipun harmonis, hubungan agama dan budaya tidak lepas dari konflik. Modernisasi, globalisasi, dan migrasi menyebabkan perubahan nilai yang cepat sehingga beberapa tradisi budaya dianggap tidak lagi relevan atau bertentangan dengan ajaran agama tertentu. Penelitian Ratri & Kurniawan (2022) dalam Indonesian Journal of Sociology menunjukkan bahwa konflik terjadi ketika interpretasi agama yang eksklusif menolak keberadaan tradisi adat tertentu.

Selain itu, digitalisasi memperkuat polarisasi nilai. Kajian oleh Nugraha (2023) menemukan bahwa media sosial memungkinkan munculnya kelompok-kelompok yang mengampanyekan pemurnian agama dengan menolak praktik budaya lokal. Fenomena ini menjadi tantangan besar dalam menjaga kohesi sosial, khususnya di masyarakat plural seperti Indonesia.

Kesimpulan

Agama dan budaya merupakan dua elemen yang saling mempengaruhi dalam membentuk kehidupan sosial manusia. Agama menyediakan nilai moral dan makna spiritual, sedangkan budaya memberi bentuk dan wadah ekspresi dari nilai-nilai tersebut. Interaksi keduanya menghasilkan identitas sosial yang khas sekaligus memperkuat solidaritas masyarakat. Namun hubungan ini juga menghadapi tantangan, terutama akibat modernisasi, globalisasi, dan digitalisasi yang mengubah cara masyarakat memahami nilai agama dan budaya. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan dialogis dan moderatif untuk menjaga keseimbangan antara keduanya agar tetap relevan dan harmonis dalam kehidupan sosial kontemporer.

Daftar Referensi


  • Abdullah, M. Amin. (2020). Multidisiplin, Interdisiplin, dan Transdisiplin Ilmu dalam Pendidikan Tinggi. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Press.

  • Anwar, L., & Putra, R. (2023). “Digital Culture and Religious Expression in Indonesian Society.” Journal of Social and Cultural Dynamics, 5(2), 145–160.

  • Geertz, Clifford. (2020). The Interpretation of Cultures (Revised Edition). New York: Basic Books.

  • Hermanto, B. (2022). “Religio-Cultural Identity Formation in Indonesian Communities.” Jurnal Sosiologi Nusantara, 8(1), 1–15.

  • Latif, Y. (2021). Wawasan Kebangsaan dan Integrasi Sosial. Jakarta: LP3ES.

  • Naimah, M. (2024). “Hubungan Agama dan Budaya dalam Perspektif Moderasi Beragama.” Jurnal Moderatio, 6(1), 11–25.

  • Nugraha, F. (2023). “Digital Religion and the Rise of Puritan Groups Online.” Journal of Digital Sociology, 4(3), 50–62.

  • Pickering, W. (2022). Reconstructing Durkheim: Contemporary Debates on Religion and Society. Routledge.

  • Ratri, D., & Kurniawan, E. (2022). “Cultural Resistance and Religious Purification Movements in Indonesia.” Indonesian Journal of Sociology, 10(2), 89–104.

Jumat, 17 Oktober 2025

Mendidik Anak dengan 3 Level Kecerdasan: Intelektual, Emosional dan Spiritual

 Dr. Ebing Karmiza, A.Ma, S.Ud, S.E, M.Si

(Ketua Asosiasi Pengelola Jurnal Indonesia Regional Sumatera Selatan)



Di tengah arus modernisasi yang menuntut anak untuk serba cepat, pandai, dan berprestasi, sering kali para orang tua lupa: kecerdasan sejati bukan hanya soal nilai di rapor, tetapi juga kemampuan anak memahami diri, berempati, dan mengenal Tuhan.
Tiga dimensi kecerdasan  intelektual, emosional, dan spiritual  adalah fondasi penting untuk membentuk manusia yang tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga hatinya.

Cerdas Tidak Cukup Hanya di Atas Kertas

Sebagian besar sistem pendidikan masih menilai keberhasilan dari kemampuan akademik. Anak yang pintar berhitung dan lancar membaca sering dianggap “sukses”.
Padahal, seperti dikatakan psikolog Daniel Goleman, kesuksesan hidup hanya ditentukan sekitar 20% oleh IQ, sementara 80% sisanya berasal dari kecerdasan emosional dan sosial.
Artinya, tanpa pengendalian diri, empati, dan moral, kecerdasan intelektual tidak akan membawa anak menuju kebahagiaan sejati.
Orang tua dapat membantu anak mengasah IQ dengan cara-cara sederhana namun efektif: membacakan buku, mengajak berdiskusi ringan, bermain teka-teki, atau melatih kemampuan berpikir logis melalui pengalaman sehari-hari.

EQ: Mengajari Anak untuk Mengenal dan Mengelola Emosi

Banyak orang tua lupa bahwa anak kecil pun memiliki dunia emosinya sendiri. Mereka bisa kecewa, marah, atau cemas, sama seperti orang dewasa.
Kecerdasan emosional (EQ) membantu anak mengenali perasaan, mengelola emosi, dan membangun hubungan sosial yang sehat. Anak yang emosinya terkelola dengan baik cenderung lebih sabar, empatik, dan mudah beradaptasi.
“Anak dengan EQ tinggi akan lebih sukses berinteraksi dan berbahagia dalam hidupnya, meski mungkin bukan yang paling pintar di kelas,” ujar Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence.
Cara melatih EQ anak bisa dimulai dengan hal sederhana: menanyakan perasaannya setiap hari (“Hari ini kamu senang atau sedih?”), mengajarkan anak meminta maaf, serta memberi contoh bagaimana menenangkan diri saat marah.

SQ: Mengajarkan Anak Makna Hidup

Jika IQ melatih logika dan EQ mengasah rasa, maka SQ (Spiritual Quotient) menuntun jiwa.
Kecerdasan spiritual adalah kemampuan memahami makna dan tujuan hidup, serta kesadaran akan nilai-nilai moral dan ketuhanan.
Peneliti Danah Zohar dan Ian Marshall menyebut SQ sebagai “kecerdasan tertinggi manusia” karena ia menuntun dua kecerdasan lainnya untuk berjalan di jalan yang benar.
Menumbuhkan SQ anak dapat dilakukan melalui pembiasaan positif seperti berdoa bersama, bersyukur atas hal kecil, membantu sesama, atau merenungi keindahan alam.
Orang tua tidak perlu mengajarkan teori agama yang rumit, cukup dengan teladan. Anak akan belajar bahwa spiritualitas bukan hanya soal ritual, tetapi juga soal bagaimana ia bersikap dan berbuat baik kepada sesama.

Sinergi yang Membangun Karakter

Ketiga kecerdasan ini  IQ, EQ, dan SQ bagaikan tiga kaki penyangga yang menjaga keseimbangan hidup anak.
IQ membentuk cara berpikir, EQ mengatur perasaan, dan SQ memberikan arah moral. Bila ketiganya tumbuh harmonis, anak akan menjadi pribadi yang cerdas secara utuh: berpikir jernih, berperasaan hangat, dan berjiwa luhur.
Pendidikan yang menekankan keseimbangan tiga kecerdasan ini juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menekankan pentingnya membentuk peserta didik beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cakap, dan bertanggung jawab.

Pesan Penutup: Didiklah dengan Hati

Mendidik anak bukanlah sekadar mencetak “pemenang ujian”, melainkan membentuk manusia yang utuh yang tahu cara berpikir, merasa, dan berbuat dengan benar.
Orang tua adalah sekolah pertama bagi anak. Dari merekalah anak belajar mencintai, berempati, dan mengenal Tuhan.
Seperti pepatah bijak mengatakan, “Pendidikan sejati adalah yang menumbuhkan kepala, hati, dan jiwa dalam satu kesatuan.”

Kutipan Inspiratif

“Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang kita katakan.”
Daniel Goleman


Minggu, 27 April 2025

Makna Pernikahan: Antara Tradisi, Agama, dan Fitrah Manusia

Dr. Ebing Karmiza, A.Ma, S.Ud, S.E, M.Si 

PENDAHULUAN

Pernikahan telah menjadi bagian integral dari perjalanan peradaban manusia, melintasi zaman, budaya, dan geografi. Dalam berbagai fase sejarah, pernikahan tidak hanya berfungsi sebagai penyatuan dua individu, tetapi juga sebagai fondasi pembentukan masyarakat. Melalui pernikahan, lahir unit-unit keluarga yang menjadi dasar dari tatanan sosial dan peradaban. Hubungan emosional yang dibangun melalui pernikahan memperkuat jaringan sosial, menciptakan stabilitas, dan menumbuhkan solidaritas antargenerasi.

Sebagai sebuah institusi sosial, pernikahan mengikat manusia dalam jaringan hukum dan norma yang mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak. Hukum adat, perundang-undangan negara, maupun hukum agama masing-masing berupaya mengatur bagaimana hubungan ini dijalani dan dipertahankan. Kehadiran peraturan dalam pernikahan bertujuan untuk memberikan perlindungan hukum, mencegah konflik, serta memastikan keberlanjutan hubungan yang harmonis di tengah masyarakat yang lebih luas. Ikatan hukum ini mempertegas bahwa pernikahan bukan sekadar hubungan privat, melainkan memiliki implikasi sosial dan legal yang signifikan.

Lebih dalam lagi, pernikahan menyentuh ranah spiritual manusia. Dalam banyak kepercayaan, pernikahan dipandang sebagai penyatuan dua jiwa di hadapan kekuatan transendental. Ia bukan hanya kontrak duniawi, tetapi juga perjanjian suci yang membawa nilai-nilai luhur seperti kesetiaan, pengorbanan, dan pengabdian. Melalui pernikahan, manusia menjalani proses penyempurnaan diribelajar mencintai tanpa syarat, bertumbuh bersama dalam suka dan duka, serta melatih kebajikan-kebajikan yang menjadi landasan kedewasaan spiritual.

Keseluruhan makna pernikahan itu, terdapat tiga dimensi besar yang saling bersinggungan dan memperkaya: tradisi, agama, dan fitrah manusia. Tradisi memberikan konteks budaya yang membingkai nilai dan praktik pernikahan. Agama memberikan arah spiritual dan moral terhadap tujuan hubungan ini. Sementara fitrah manusia menggerakkan hasrat terdalam untuk mencintai, berbagi hidup, dan membangun keturunan. Memahami ketiga aspek ini secara komprehensif penting agar makna pernikahan tidak tereduksi menjadi seremoni kosong atau sekadar pemenuhan tuntutan sosial semata, melainkan menjadi perjalanan suci menuju pembentukan kehidupan yang bermakna dan utuh.

Pernikahan Perspektif Tradisi

Pernikahan dalam berbagai budaya di dunia bukan sekadar penyatuan dua insan, tetapi merupakan bagian dari mekanisme sosial untuk menjaga kesinambungan nilai, norma, dan identitas kolektif. Dalam tradisi, pernikahan memiliki fungsi strategis untuk memperkuat jaringan sosial, memperluas hubungan antar komunitas, dan menegaskan kesinambungan generasi. Melalui ikatan pernikahan, keluarga tidak hanya melanjutkan keturunan, tetapi juga menjaga stabilitas sosial, warisan budaya, serta kehormatan keluarga besar.

Menurut Geertz (1973), adat istiadat yang melingkupi prosesi pernikahan mencerminkan struktur sosial dan peran sosial yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Melalui ritual-ritual yang dijalankan, masyarakat menegaskan posisi sosial, status keluarga, serta hak dan kewajiban antar individu dalam komunitas. Upacara-upacara yang diadakan, mulai dari lamaran hingga pesta pernikahan, seringkali disusun sedemikian rupa untuk memperlihatkan nilai kehormatan, solidaritas, dan kesatuan sosial.

Tradisi juga memperkaya makna pernikahan melalui simbol-simbol dan ritus yang memiliki makna mendalam. Setiap elemen dalam ritual pernikahan—seperti pakaian adat, sesaji, doa, hingga susunan acara—mencerminkan falsafah hidup masyarakat. Dalam banyak budaya, simbolisme ini mengajarkan nilai tentang kesetiaan, kesuburan, keharmonisan, dan pengabdian dalam pernikahan. Ritual tersebut menjadi media pendidikan sosial yang memperkenalkan pasangan baru kepada nilai dan tanggung jawab pernikahan dalam budaya mereka.

Contohnya, dalam budaya Jawa, prosesi siraman dan panggih menegaskan pentingnya peran keluarga besar dalam membangun harmoni dalam pernikahan. Siraman, ritual penyucian diri, melambangkan kesiapan lahir batin calon pengantin untuk memasuki fase kehidupan baru. Sedangkan prosesi panggih, yaitu pertemuan simbolis kedua mempelai, menandai persatuan dua keluarga besar dalam satu ikatan yang diharapkan penuh kedamaian dan kerukunan.

Tradisi ini menggarisbawahi bahwa pernikahan bukan sekadar keputusan individual yang bersifat privat, melainkan peristiwa komunal yang melibatkan banyak pihak. Setiap langkah dalam tradisi mengingatkan bahwa kehidupan pernikahan tidak hanya tentang relasi pribadi, tetapi juga tentang menjaga keharmonisan sosial, mempererat hubungan kekeluargaan, dan mempertahankan identitas budaya dalam dinamika kehidupan bermasyarakat.

Dengan demikian, dalam perspektif tradisi, pernikahan adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ia menjadi media vital untuk melestarikan nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang, sekaligus membentuk tatanan sosial yang berkelanjutan. Tanpa pemahaman terhadap akar tradisi, pernikahan dapat kehilangan makna historis dan sosialnya, menjadikannya rentan terhadap perubahan sosial yang instan dan dangkal.

Pernikahan dalam Perspektif Agama

Agama-agama besar di dunia memberi tempat istimewa bagi pernikahan sebagai bagian integral dari ketaatan manusia kepada kehendak Ilahi. Di berbagai tradisi keagamaan, pernikahan bukan hanya dianggap sebagai kontrak sosial, melainkan juga sebagai perjanjian sakral yang disahkan oleh Tuhan. Dalam konteks ini, pernikahan memiliki dimensi spiritual yang lebih dalam, menghubungkan pasangan tidak hanya dalam aspek duniawi, tetapi juga dalam perjalanan keabadian.

Dalam Islam, pernikahan dianggap sebagai mitsaqan ghaliza, yakni suatu perjanjian yang kuat dan penuh tanggung jawab sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an (QS. An-Nisa: 21). Islam menempatkan pernikahan sebagai sunnah Nabi yang memiliki kedudukan luhur, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan naluriah, melainkan untuk menjaga martabat, membangun keluarga sakinah, serta memperkuat struktur masyarakat Muslim yang sehat dan harmonis. Melalui akad nikah, laki-laki dan perempuan berkomitmen untuk saling melindungi, mengayomi, dan membangun keturunan dalam bingkai nilai tauhid.

Sementara itu, dalam ajaran Hindu, pernikahan merupakan bagian dari dharma atau tugas suci yang wajib dijalani untuk melanjutkan kesinambungan moral dan spiritual masyarakat. Das (2003) menjelaskan bahwa pernikahan dalam Hindu bukan sekadar hubungan antara dua individu, melainkan satu bentuk upacara keagamaan yang membawa dua jiwa dalam ikatan karma bersama. Tujuan pernikahan dalam tradisi Hindu adalah untuk mendukung satu sama lain dalam perjalanan menuju moksha (pembebasan spiritual), sekaligus memenuhi kewajiban sosial dan religius.

Ajaran agama-agama ini menggarisbawahi bahwa pernikahan melampaui pemenuhan kebutuhan biologis atau emosional semata. Pernikahan dilihat sebagai sarana untuk membentuk komunitas kasih, di mana dua individu saling menguatkan dalam menghadapi tantangan hidup, memperkokoh nilai kebajikan, dan mendidik generasi penerus dalam prinsip-prinsip moral yang luhur. Dalam komunitas tersebut, pernikahan berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap kehancuran moral dan sosial.

Dengan demikian, dalam perspektif agama, pernikahan bukan hanya tindakan personal, melainkan juga sebuah tanggung jawab spiritual yang berat. Ia mengharuskan pasangan untuk menempatkan hubungan mereka dalam kerangka nilai-nilai ketuhanan, membangun relasi yang dilandasi oleh kasih sejati, kesetiaan, dan pelayanan tanpa pamrih. Di tengah arus sekularisasi zaman modern, menghidupkan kembali makna spiritual pernikahan menjadi tantangan sekaligus panggilan untuk menjaga kesakralan lembaga suci ini.

Pernikahan dan Fitrah Manusia

Secara psikologis dan antropologis, manusia memiliki kebutuhan alamiah untuk hidup berpasangan dan membentuk ikatan emosional yang kuat. Kebutuhan ini merupakan bagian dari kodrat dasar manusia, yang menginginkan kehadiran orang lain untuk berbagi kasih sayang, perlindungan, dan dukungan emosional. Abraham Maslow (1943), dalam teorinya tentang hierarki kebutuhan manusia, menempatkan rasa cinta dan memiliki (love and belonging) sebagai salah satu kebutuhan mendasar setelah kebutuhan fisiologis dan keamanan. Artinya, kecenderungan untuk membentuk relasi yang penuh cinta bukanlah sekadar keinginan sosial, melainkan kebutuhan eksistensial yang melekat pada struktur jiwa manusia.

Dalam konteks ini, pernikahan menjadi wahana utama untuk memenuhi dorongan fitrah tersebut. Melalui pernikahan, manusia menemukan ruang aman untuk mengekspresikan cinta, membangun keintiman emosional, dan menciptakan hubungan yang berkelanjutan. Ikatan pernikahan bukan hanya soal kehadiran fisik pasangan, tetapi juga tentang membangun kedekatan batiniah, kepercayaan, dan komitmen yang kuat. Kehadiran pasangan hidup memberikan rasa kebermaknaan dan rasa diterima, yang pada gilirannya memperkuat kesejahteraan psikologis individu.

Lebih jauh lagi, pernikahan juga berfungsi sebagai sarana untuk memperpanjang eksistensi manusia melalui keturunan. Dorongan untuk melanjutkan garis keturunan merupakan bagian integral dari fitrah manusia, yang secara biologis dan sosial diaktualisasikan melalui pernikahan. Keluarga yang dibentuk dari pernikahan menjadi wadah utama untuk menanamkan nilai, tradisi, serta kearifan hidup kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, pernikahan tidak hanya memenuhi kebutuhan individual, tetapi juga berkontribusi terhadap kesinambungan budaya dan peradaban manusia.

Ketika kebutuhan akan cinta, keintiman, dan keberlanjutan eksistensi ini terpenuhi secara sehat dalam bingkai pernikahan, individu berpotensi mencapai tingkat aktualisasi diri yang lebih tinggi. Aktualisasi diri, sebagaimana dijelaskan oleh Maslow, adalah puncak perkembangan manusia di mana individu mampu mengembangkan potensi terbaiknya. Pernikahan yang sehat menyediakan lingkungan emosional yang mendukung pertumbuhan, memungkinkan individu untuk mengejar makna hidup, berkontribusi secara positif kepada masyarakat, dan mencapai kebahagiaan batiniah yang lebih dalam.

Namun, pemenuhan fitrah manusia melalui pernikahan bukanlah proses otomatis. Diperlukan usaha sadar dari kedua belah pihak untuk membangun hubungan yang dilandasi oleh kasih sayang, komunikasi yang sehat, komitmen jangka panjang, dan kesiapan untuk menghadapi tantangan bersama. Pernikahan yang gagal memenuhi kebutuhan dasar ini justru dapat menyebabkan frustrasi, keterasingan, dan kegagalan individu untuk mengaktualisasikan dirinya. Oleh karena itu, kesiapan mental, emosional, dan spiritual menjadi prasyarat penting dalam membangun pernikahan yang mampu mewadahi fitrah manusia secara optimal.

Dengan demikian, pernikahan dalam perspektif fitrah manusia adalah lebih dari sekadar ikatan hukum atau budaya; ia adalah ekspresi terdalam dari kebutuhan manusia untuk mencintai, berkembang, dan bermakna. Menyadari aspek ini mengajak kita untuk memandang pernikahan tidak hanya sebagai institusi sosial, tetapi juga sebagai jalan penting dalam perjalanan menjadi manusia yang utuh dan paripurna.

Analisis Penulis

Melihat ketiga dimensi di atas, penulis menilai bahwa makna pernikahan menghadapi tantangan besar di era modern. Gelombang globalisasi, perubahan budaya, serta penguatan nilai-nilai individualisme telah menggeser pandangan masyarakat tentang pernikahan. Bagi sebagian kalangan, pernikahan tak lebih dari sekadar kontrak legal yang sah secara hukum, atau sekadar romantisisme emosional yang berpusat pada kebahagiaan pribadi. Pergeseran ini secara perlahan mengikis akar tradisi, mengaburkan nilai-nilai agama, serta menyingkirkan kebutuhan fitrah manusia yang lebih dalam akan cinta, pengabdian, dan keberlanjutan komunitas.

Dalam kondisi ini, pernikahan kehilangan dimensi sakral dan sosialnya, berubah menjadi hubungan transaksional yang rentan terhadap ketidakstabilan. Ketika tradisi dipandang usang, agama dianggap beban, dan fitrah manusia diabaikan dalam arus konsumtif budaya modern, pernikahan mudah terombang-ambing oleh gejolak emosi sesaat dan tekanan eksternal. Fenomena tingginya angka perceraian, pernikahan tanpa komitmen jangka panjang, dan menurunnya apresiasi terhadap lembaga keluarga adalah refleksi nyata dari hilangnya pemahaman mendalam tentang makna sejati pernikahan.

Pernikahan ideal seyogianya dipahami sebagai jembatan multidimensional yang menghubungkan berbagai aspek kehidupan manusia. Menghormati tradisi sebagai warisan kolektif berarti menjaga identitas, menghargai akar budaya, dan memperkuat jaringan sosial yang telah terbentuk lintas generasi. Menjunjung agama sebagai panduan moral berfungsi untuk menuntun pasangan dalam menghadapi ujian hidup, membangun rumah tangga yang berorientasi pada kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Menyadari fitrah manusia untuk hidup dalam cinta dan komunitas berarti memahami bahwa kebutuhan untuk mencintai dan dicintai adalah bagian hakiki dari eksistensi manusia yang harus dipenuhi secara sehat dan bermakna.

Tanpa kesadaran terhadap ketiga aspek ini, pernikahan menjadi rapuh, mudah runtuh di hadapan tekanan ekonomi, perubahan sosial, atau sekadar ketidakpuasan emosional. Pernikahan yang hanya dibangun di atas fondasi perasaan sesaat atau kontrak formal semata akan kehilangan daya tahan ketika diuji oleh realitas kehidupan. Ia kehilangan kekuatannya sebagai tempat bertumbuh, belajar, dan berbagi dalam suka maupun duka.

Sebaliknya, ketika tradisi, agama, dan fitrah manusia diintegrasikan secara harmonis dalam kehidupan pernikahan, hubungan tersebut tidak hanya bertahan terhadap tantangan zaman, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan pribadi dan sosial yang berkelanjutan. Pernikahan seperti ini mampu memperkaya pengalaman hidup, mengokohkan moralitas sosial, dan menjadi fondasi bagi terciptanya masyarakat yang sehat dan beradab. Ia menjadi medan latihan kesabaran, kasih sayang, keberanian, dan kebijaksanaan yang membentuk karakter individu dan keluarga yang kuat.

Dengan demikian, revitalisasi makna pernikahan di era modern menuntut kesadaran kolektif untuk kembali memahami pernikahan sebagai peristiwa yang sakral, bermakna, dan integral dengan seluruh aspek kehidupan manusia. Hanya dengan membangun kembali kesadaran ini, pernikahan dapat kembali menjadi pondasi utama peradaban yang beradab, seimbang, dan berkelanjutan.

Minggu, 26 Januari 2025

Hubungan Ekonomi, Tingkat Pendidikan, dan Tingkat Kesuksesan

Dr. Ebing Karmiza, A.Ma, S.Ud, S.E, M.Si 

Pendahuluan

Ekonomi, pendidikan, dan kesuksesan merupakan tiga elemen kunci yang saling berkaitan dalam kehidupan individu dan masyarakat. Ketiganya membentuk hubungan yang kompleks, di mana ekonomi yang kuat memberikan dasar bagi terciptanya peluang pendidikan yang lebih baik, sementara pendidikan membuka jalan bagi peningkatan ekonomi dan kesuksesan individu. Kondisi ekonomi yang baik seringkali menjadi faktor utama dalam memungkinkan seseorang mengakses pendidikan berkualitas, yang pada akhirnya meningkatkan peluang keberhasilan dalam berbagai aspek kehidupan (Hidayat, 2017).

Kondisi ekonomi yang stabil dan memadai memberikan banyak keuntungan, termasuk akses terhadap institusi pendidikan terbaik, sarana belajar yang memadai, serta waktu dan tenaga untuk fokus pada pendidikan. Sebaliknya, keterbatasan ekonomi seringkali menjadi penghalang utama bagi sebagian masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Biaya pendidikan yang tinggi, kebutuhan untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup, serta kurangnya dukungan infrastruktur pendidikan adalah beberapa tantangan yang dihadapi oleh individu dari latar belakang ekonomi yang rendah (Mustofa, 2020).

Pendidikan memiliki peran penting dalam memutus siklus kemiskinan yang sering kali terjadi pada keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Melalui pendidikan, individu dapat memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk bersaing di pasar kerja. Pendidikan juga meningkatkan mobilitas sosial, memberikan peluang untuk keluar dari keterbatasan ekonomi yang diwariskan dari generasi sebelumnya (Suryadi, 2018). Oleh karena itu, investasi dalam pendidikan tidak hanya berdampak pada individu tetapi juga pada masyarakat secara keseluruhan.

Namun, tidak semua kesuksesan dapat diukur melalui pendidikan formal. Banyak individu yang mencapai keberhasilan tanpa melalui jalur pendidikan tinggi. Mereka mengandalkan keterampilan praktis, kreativitas, dan kerja keras untuk menciptakan peluang mereka sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan, meskipun penting, bukan satu-satunya penentu kesuksesan (Santoso, 2019). Faktor-faktor lain seperti motivasi, dukungan sosial, dan akses terhadap peluang juga memiliki peran yang signifikan.

Di sisi lain, pendidikan yang memadai tidak hanya memberikan keterampilan teknis tetapi juga membangun karakter dan kemampuan berpikir kritis. Pendidikan formal yang berkualitas dapat membentuk individu menjadi pemimpin yang inovatif dan memiliki visi jangka panjang. Dengan keterampilan tersebut, individu dapat berkontribusi secara signifikan dalam berbagai bidang, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan dampak positif dalam komunitas mereka (Mustofa, 2020).

Kesuksesan seringkali dianggap sebagai hasil akhir dari sinergi antara ekonomi dan pendidikan. Namun, kesuksesan sejati tidak selalu diukur dari keberhasilan material semata. Kemampuan untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat, menjaga keseimbangan hidup, dan mencapai kepuasan batin juga merupakan indikator penting dari kesuksesan. Oleh karena itu, pendekatan terhadap kesuksesan perlu dilihat secara holistik, dengan mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan (Hidayat, 2017).

Kesimpulannya, ekonomi, pendidikan, dan kesuksesan saling berkaitan erat dalam membentuk kehidupan individu dan masyarakat. Kondisi ekonomi yang baik dapat membuka akses terhadap pendidikan berkualitas, sementara pendidikan menjadi jalan untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar. Meski demikian, faktor-faktor non-formal seperti motivasi dan kreativitas juga memainkan peran penting dalam keberhasilan seseorang. Kombinasi dari elemen-elemen ini menunjukkan bahwa kesuksesan adalah hasil dari upaya berkelanjutan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik (Suryadi, 2018)..

Hubungan Ekonomi dan Tingkat Pendidikan.

Kondisi ekonomi memiliki peran signifikan dalam menentukan akses seseorang terhadap pendidikan. Individu dengan latar belakang ekonomi yang kuat sering kali memiliki kesempatan lebih besar untuk mengakses berbagai sumber daya yang mendukung pendidikan, seperti fasilitas yang memadai, biaya pendidikan yang terjangkau, serta waktu dan energi untuk fokus pada pembelajaran. Kekuatan ekonomi memungkinkan keluarga untuk mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah atau perguruan tinggi terbaik, yang menawarkan kualitas pendidikan yang lebih tinggi dan kesempatan yang lebih besar untuk sukses di masa depan (Suryadi, 2018).

Namun, di sisi lain, mereka yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi rendah sering kali menghadapi hambatan yang signifikan dalam mengakses pendidikan berkualitas. Keterbatasan dana dapat menghalangi individu untuk mendaftar di lembaga pendidikan tinggi atau bahkan sekolah dasar dan menengah, mengingat tingginya biaya pendidikan di banyak negara. Sebagian besar individu yang berasal dari keluarga miskin terpaksa bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, sehingga mereka sering kali tidak memiliki waktu atau energi untuk belajar secara maksimal. Kondisi ini dapat membatasi peluang mereka untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan, yang pada akhirnya memengaruhi peluang mereka untuk sukses di masa depan (Santoso, 2019).

Di sisi lain, pendidikan berperan sebagai alat mobilitas sosial yang sangat penting. Pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membuka peluang bagi individu untuk meningkatkan status sosial dan ekonomi mereka. Dengan pendidikan yang memadai, individu dapat memperoleh pekerjaan yang lebih baik, meningkatkan keterampilan profesional mereka, dan akhirnya mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi. Kenaikan penghasilan ini berkontribusi langsung pada peningkatan kesejahteraan ekonomi, yang pada gilirannya dapat memperbaiki kualitas hidup secara keseluruhan (Hidayat, 2017).

Pendidikan yang baik memungkinkan seseorang untuk mengakses pasar kerja yang lebih luas, di mana mereka dapat memperoleh pekerjaan yang menawarkan gaji lebih tinggi dan kondisi kerja yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan praktis, tetapi juga keterampilan yang dapat diterapkan untuk memperoleh keuntungan finansial yang lebih besar. Dengan demikian, pendidikan menjadi instrumen yang memungkinkan individu untuk meningkatkan status sosial mereka, yang seringkali dimulai dari peningkatan kondisi ekonomi yang lebih baik (Suryadi, 2018).

Terdapat hubungan timbal balik yang kuat antara ekonomi dan pendidikan, yang saling memengaruhi dan memperkuat satu sama lain. Ketika kondisi ekonomi suatu negara atau individu kuat, maka lebih banyak sumber daya yang dapat dialokasikan untuk pendidikan. Sebaliknya, tingkat pendidikan yang tinggi dapat menghasilkan individu-individu yang lebih produktif, yang pada gilirannya akan meningkatkan perekonomian melalui kontribusi mereka terhadap pembangunan ekonomi. Dengan kata lain, semakin baik kondisi ekonomi, semakin banyak kesempatan untuk pendidikan yang berkualitas, dan semakin berkualitas pendidikan, semakin besar peluang individu untuk memperbaiki keadaan ekonomi mereka (Hidayat, 2017).

Pentingnya pendidikan sebagai pendorong kemajuan ekonomi juga terlihat dalam bagaimana masyarakat yang terdidik cenderung memiliki tingkat kewirausahaan yang lebih tinggi. Mereka lebih mampu mengidentifikasi peluang ekonomi dan memanfaatkan sumber daya secara efektif untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Oleh karena itu, pendidikan menjadi kunci dalam mendorong perekonomian dan mendorong individu untuk lebih mandiri secara finansial (Santoso, 2019).

Namun, individu yang berasal dari keluarga dengan ekonomi rendah sering kali dihadapkan pada tantangan besar dalam mengakses pendidikan yang baik. Meski ada berbagai program bantuan dan beasiswa, banyak keluarga yang masih kesulitan untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari, apalagi untuk pendidikan. Ketidakmampuan untuk membiayai pendidikan ini dapat menciptakan ketimpangan dalam kesempatan memperoleh pendidikan yang layak, memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi di masyarakat (Santoso, 2019).

Selain masalah pembiayaan, individu yang tumbuh dalam kondisi ekonomi yang kurang beruntung juga sering kali tidak memiliki akses terhadap fasilitas pendidikan yang memadai, seperti buku, alat pembelajaran, atau ruang belajar yang nyaman. Kondisi seperti ini membuat mereka berada dalam posisi yang lebih sulit dibandingkan dengan individu dari keluarga yang lebih mampu secara ekonomi. Oleh karena itu, meskipun pendidikan adalah hak setiap individu, kenyataannya tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menikmatinya (Suryadi, 2018).

Pendidikan memainkan peran besar dalam merubah status sosial seseorang, apalagi jika dilihat dalam konteks mobilitas sosial. Ketika seseorang berhasil menempuh pendidikan yang lebih tinggi, ia dapat mengakses pekerjaan yang lebih baik, yang tidak hanya memberikan peningkatan dalam penghasilan, tetapi juga meningkatkan status sosial mereka dalam masyarakat. Pendidikan membantu seseorang untuk tidak hanya mengubah kondisi ekonomi mereka, tetapi juga memberi mereka kemampuan untuk berpikir lebih kritis, beradaptasi dengan perubahan, dan menciptakan peluang di bidang lainnya (Hidayat, 2017).

Namun, meskipun pendidikan tinggi dapat meningkatkan peluang individu dalam memperoleh pekerjaan yang lebih baik, hal ini tidak menjamin kesuksesan dalam pencapaian ekonomi secara otomatis. Banyak faktor lain yang turut mempengaruhi kesuksesan individu, seperti kondisi pasar kerja, kecakapan beradaptasi dengan perubahan, dan keterampilan non-akademis lainnya (Santoso, 2019). Oleh karena itu, meskipun pendidikan memberikan peluang, sukses tetap bergantung pada berbagai faktor yang lebih luas dan kompleks.

Pendidikan berkualitas seringkali dianggap sebagai kunci untuk menciptakan mobilitas sosial, yaitu kemampuan seseorang untuk bergerak dari kelas sosial rendah ke kelas sosial yang lebih tinggi. Individu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki peluang yang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik. Di banyak negara, pendidikan adalah salah satu cara utama bagi individu untuk meningkatkan status sosial mereka, dan dalam banyak kasus, pendidikan tinggi menjadi faktor yang menentukan dalam apakah seseorang akan berhasil secara ekonomi (Suryadi, 2018).

Namun, meskipun pendidikan memberikan peluang bagi mobilitas sosial, tantangan terbesar adalah akses terhadap pendidikan itu sendiri. Ketika kesempatan untuk mengakses pendidikan berkualitas terbatas, maka mobilitas sosial menjadi semakin sulit dicapai. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk bekerja sama dalam menciptakan kebijakan yang memastikan pendidikan dapat diakses oleh semua kalangan, tanpa memandang status ekonomi (Hidayat, 2017).

Pemerintah memiliki peran penting dalam memperbaiki akses terhadap pendidikan berkualitas. Program-program bantuan pendidikan, seperti beasiswa dan subsidi pendidikan, merupakan langkah awal untuk membantu individu dari keluarga miskin untuk mengakses pendidikan yang lebih baik. Selain itu, pemerintah juga dapat berinvestasi dalam infrastruktur pendidikan untuk memastikan bahwa semua daerah, baik yang terletak di perkotaan maupun pedesaan, memiliki akses yang sama terhadap pendidikan yang berkualitas (Santoso, 2019).

Namun, peran pemerintah tidak hanya terbatas pada penyediaan bantuan finansial atau infrastruktur pendidikan. Pemerintah juga harus menciptakan kebijakan yang merata, yang tidak hanya fokus pada pembangunan pendidikan formal, tetapi juga pada pengembangan keterampilan dan pendidikan non-formal yang dapat meningkatkan kualitas hidup individu. Dengan demikian, pendidikan dapat menjadi alat yang lebih efektif dalam meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat secara keseluruhan (Suryadi, 2018).

Secara keseluruhan, hubungan antara ekonomi dan pendidikan adalah dua aspek yang tidak dapat dipisahkan, yang saling memengaruhi dan membentuk keadaan sosial dan ekonomi seseorang. Ekonomi yang baik memberikan akses lebih mudah kepada pendidikan yang lebih berkualitas, sementara pendidikan yang memadai membuka peluang bagi individu untuk meningkatkan kesejahteraan dan status sosial mereka. Namun, kendala ekonomi tetap menjadi tantangan besar yang harus diatasi untuk memastikan bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan meraih kesuksesan (Hidayat, 2017).

Pendidikan adalah kunci untuk memecahkan banyak masalah sosial dan ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan kebijakan yang mendukung akses pendidikan bagi semua kalangan. Dengan adanya pendidikan yang merata dan berkualitas, kesuksesan dalam kehidupan bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai oleh siapa saja, terlepas dari latar belakang ekonomi mereka (Santoso, 2019)

Analisis
Hubungan antara ekonomi dan pendidikan bersifat siklus. Kondisi ekonomi yang baik memungkinkan akses pendidikan yang lebih baik, yang pada gilirannya meningkatkan keterampilan dan pengetahuan individu, sehingga meningkatkan peluang mereka untuk mencapai kesuksesan ekonomi (Suryadi, 2018). Oleh karena itu, investasi dalam pendidikan menjadi penting untuk memutus siklus kemiskinan dan meningkatkan mobilitas sosial.

Hubungan Ekonomi dan Tingkat Kesuksesan

Kondisi ekonomi yang baik memiliki dampak signifikan terhadap individu dalam meraih kesuksesan. Individu yang memiliki modal ekonomi yang kuat memiliki akses yang lebih mudah kepada berbagai sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan hidup mereka, seperti pendidikan, pelatihan, dan jaringan sosial yang luas. Dengan akses ke sumber daya ini, mereka dapat memperluas pengetahuan dan keterampilan mereka, serta membangun hubungan yang bermanfaat untuk perkembangan karier atau bisnis mereka (Mustofa, 2020). Akses yang lebih baik ini menciptakan peluang yang lebih besar untuk meraih kesuksesan, baik dalam dunia profesional maupun pribadi.

Namun, ketimpangan ekonomi dapat menjadi penghalang yang signifikan bagi individu yang berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi rendah. Keterbatasan dana sering kali membatasi mereka dalam mengakses pendidikan berkualitas atau peluang pengembangan diri lainnya. Tanpa dukungan finansial, individu-individu ini mungkin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, apalagi untuk investasi dalam pendidikan atau pengembangan keterampilan yang dapat meningkatkan prospek karier mereka (Santoso, 2019). Hal ini memperburuk kesenjangan sosial dan menciptakan lingkaran setan kemiskinan, di mana generasi berikutnya mungkin menghadapi kesulitan yang sama untuk mencapai kesuksesan.

Meskipun ketimpangan ekonomi menjadi hambatan, banyak individu yang berhasil mengatasi keterbatasan ini dan mencapai kesuksesan yang luar biasa. Salah satu contoh nyata adalah individu-individu yang lahir dalam keluarga miskin, tetapi dengan kerja keras, ketekunan, dan kemampuan beradaptasi yang tinggi, mereka berhasil mengubah nasib mereka. Mereka sering kali memanfaatkan keterampilan yang mereka miliki untuk menciptakan peluang baru, memanfaatkan teknologi, dan berinovasi dalam menghadapi tantangan ekonomi (Santoso, 2019). Keberhasilan mereka menunjukkan bahwa meskipun latar belakang ekonomi memainkan peran, faktor lain seperti motivasi pribadi dan kemampuan untuk berinovasi juga sangat penting dalam meraih kesuksesan.

Salah satu faktor penting yang membedakan individu yang berhasil dengan yang tidak adalah mentalitas mereka. Mentalitas positif yang mencakup ketekunan, keyakinan diri, dan kemampuan untuk melihat peluang dalam setiap tantangan dapat menjadi penentu utama dalam mencapai kesuksesan. Mereka yang memiliki mentalitas ini tidak mudah menyerah pada kesulitan ekonomi, melainkan melihat hambatan sebagai tantangan yang bisa diatasi dengan usaha dan kreativitas (Mustofa, 2020). Mentalitas yang kuat ini, dikombinasikan dengan keterampilan yang terus diasah, memungkinkan individu untuk membuka jalan menuju kesuksesan meskipun menghadapi banyak rintangan.

Selain mentalitas yang kuat, inovasi juga merupakan faktor penting yang memungkinkan individu untuk mengatasi keterbatasan ekonomi. Inovasi bukan hanya berkaitan dengan penemuan teknologi baru, tetapi juga mencakup pendekatan kreatif terhadap masalah yang ada, baik dalam bidang pendidikan, pekerjaan, maupun kewirausahaan. Individu yang mampu berpikir di luar kotak sering kali dapat menemukan cara untuk menghasilkan pendapatan atau mengakses peluang yang mungkin sebelumnya dianggap tidak terjangkau (Santoso, 2019). Inovasi inilah yang memungkinkan mereka untuk mengubah kesulitan menjadi keuntungan.

Pendidikan juga memegang peranan besar dalam memperluas peluang bagi individu untuk meraih kesuksesan. Dengan pendidikan yang baik, seseorang memiliki akses lebih besar untuk bekerja di sektor-sektor yang menawarkan gaji tinggi dan stabil. Selain itu, pendidikan memberikan keterampilan intelektual yang diperlukan untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan beradaptasi dengan perubahan dalam dunia yang terus berkembang. Oleh karena itu, meskipun seseorang memiliki keterbatasan ekonomi, pendidikan dapat menjadi jalan untuk memperbaiki keadaan ekonomi mereka dan membuka peluang baru untuk kesuksesan (Mustofa, 2020).

Kesuksesan tidak hanya bergantung pada faktor ekonomi, tetapi juga pada faktor internal individu. Selain pendidikan dan ekonomi, kesuksesan juga dipengaruhi oleh kemampuan individu untuk beradaptasi dengan lingkungan, mengelola waktu dan sumber daya secara efisien, serta memiliki keterampilan sosial yang baik. Keterampilan dalam berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, dan memimpin kelompok juga sangat penting dalam mencapai tujuan jangka panjang. Oleh karena itu, meskipun kondisi ekonomi memainkan peran penting, faktor-faktor non-ekonomi juga tidak kalah penting dalam mendukung kesuksesan seseorang (Santoso, 2019).

Selain keterampilan dan pendidikan, jaringan sosial juga memegang peranan penting dalam meraih kesuksesan. Jaringan sosial yang kuat dapat membuka peluang baru yang sebelumnya tidak terjangkau, seperti kesempatan kerja, kolaborasi, atau investasi. Individu yang memiliki koneksi yang luas dan mendalam dengan orang-orang yang memiliki pengaruh dapat memperoleh dukungan atau informasi yang sangat berharga dalam mencapai tujuan mereka. Oleh karena itu, kemampuan untuk membangun dan memelihara hubungan sosial yang baik sangat penting untuk kesuksesan (Mustofa, 2020).s

Lingkungan tempat seseorang tinggal dan bekerja juga berpengaruh terhadap peluang yang mereka miliki untuk sukses. Lingkungan yang mendukung, baik dari segi sosial, budaya, maupun ekonomi, dapat memberikan sumber daya tambahan yang memperbesar kemungkinan seseorang untuk berkembang. Sebaliknya, lingkungan yang kurang mendukung, baik karena ketidakstabilan politik, kemiskinan, atau kekurangan sumber daya, dapat menjadi penghalang yang sulit diatasi (Santoso, 2019). Oleh karena itu, kesuksesan seringkali juga bergantung pada faktor eksternal selain usaha individu itu sendiri.

Kondisi ekonomi yang stabil dapat menciptakan rasa aman dan memotivasi individu untuk mengejar tujuan jangka panjang tanpa merasa cemas tentang kebutuhan dasar mereka. Sebaliknya, ketidakpastian ekonomi seringkali mempengaruhi cara berpikir dan mentalitas individu, yang bisa membuat mereka lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan kurang memikirkan rencana masa depan. Mentalitas ini, jika tidak diubah, dapat membatasi potensi seseorang untuk meraih kesuksesan (Mustofa, 2020). Oleh karena itu, menciptakan stabilitas ekonomi yang lebih baik sangat penting dalam mendukung perkembangan mentalitas yang positif.

Keterampilan praktis juga memainkan peran penting dalam mencapai kesuksesan, terlepas dari kondisi ekonomi. Keterampilan dalam bidang tertentu, seperti teknologi, komunikasi, atau manajerial, dapat membuat individu lebih berkompeten dan lebih mampu menanggapi tuntutan pasar kerja. Individu yang terus mengasah keterampilan mereka cenderung memiliki peluang yang lebih besar untuk sukses, bahkan di pasar kerja yang sangat kompetitif sekalipun (Santoso, 2019). Oleh karena itu, meskipun kondisi ekonomi dapat mempengaruhi akses ke pelatihan dan pendidikan, keterampilan praktis yang terus berkembang tetap menjadi faktor penentu dalam kesuksesan.

Peran pemerintah sangat penting dalam menciptakan kesempatan yang lebih luas bagi semua individu, terlepas dari latar belakang ekonomi mereka. Pemerintah dapat membantu dengan menyediakan akses pendidikan yang lebih merata, menyediakan bantuan bagi individu yang membutuhkan, dan menciptakan kebijakan yang mendukung kewirausahaan dan pengembangan keterampilan. Dengan langkah-langkah tersebut, pemerintah dapat mengurangi ketimpangan ekonomi dan memberi kesempatan yang lebih besar bagi individu untuk mengatasi hambatan dan meraih kesuksesan (Mustofa, 2020).

Kesuksesan adalah hasil dari kombinasi berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi, pendidikan, keterampilan, dan mentalitas. Meskipun ekonomi memiliki pengaruh besar terhadap kesempatan seseorang untuk meraih kesuksesan, faktor-faktor lain seperti motivasi, inovasi, dan jaringan sosial juga memainkan peran penting. Untuk itu, meskipun seseorang mungkin lahir dengan keterbatasan ekonomi, mereka masih dapat meraih kesuksesan melalui kerja keras, inovasi, dan pendidikan yang baik. Pemerintah juga memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan peluang yang merata untuk semua individu (Santoso, 2019).

Analisis
Meskipun kondisi ekonomi dapat memengaruhi peluang untuk mencapai kesuksesan, faktor-faktor seperti motivasi, ketekunan, dan kemampuan beradaptasi juga memainkan peran penting. Oleh karena itu, meskipun kondisi ekonomi awal seseorang mungkin tidak ideal, dengan sikap dan upaya yang tepat, kesuksesan tetap dapat dicapai (Hidayat, 2017).

Hubungan Tingkat Pendidikan dan Tingkat Kesuksesan

Pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam mempersiapkan individu untuk mencapai kesuksesan, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Melalui pendidikan, seseorang tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berkomunikasi dengan efektif. Kemampuan-kemampuan ini sangat dibutuhkan dalam dunia kerja yang kompetitif serta dalam kehidupan sehari-hari (Mustofa, 2020). Pendidikan memberi individu landasan yang kuat untuk mengambil keputusan yang cerdas dan bertindak dengan bijak dalam berbagai situasi. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan teori, tetapi juga melatih keterampilan praktis yang sangat diperlukan dalam berbagai bidang.

Di dunia kerja, banyak keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan formal yang menjadi modal penting dalam meraih kesuksesan. Keterampilan teknis yang diperoleh dari pendidikan formal memungkinkan seseorang untuk menjalankan tugas dengan baik dan bersaing di pasar kerja yang semakin kompleks. Selain itu, kemampuan untuk bekerja dalam tim, memimpin proyek, dan beradaptasi dengan teknologi baru adalah keterampilan yang seringkali diasah selama masa pendidikan (Mustofa, 2020). Oleh karena itu, pendidikan menjadi fondasi yang kokoh bagi mereka yang ingin berkembang di dunia profesional dan mencapai kesuksesan yang berkelanjutan.

Selain pengetahuan teoritis, pendidikan juga mengajarkan keterampilan lain yang sangat berguna dalam kehidupan profesional, seperti keterampilan sosial dan komunikasi. Kemampuan untuk bekerja dengan orang lain, menyampaikan ide secara jelas, dan membangun hubungan yang efektif sangat penting dalam dunia kerja (Mustofa, 2020). Pendidikan juga memberikan wawasan tentang dunia yang lebih luas, termasuk pemahaman tentang budaya, etika kerja, dan perkembangan global, yang semuanya sangat berguna bagi individu yang ingin sukses di dunia yang terus berubah ini.l

Namun, penting untuk dicatat bahwa pendidikan formal bukanlah satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Banyak individu yang telah mencapai kesuksesan luar biasa meskipun tidak memiliki tingkat pendidikan formal yang tinggi. Mereka mengandalkan keterampilan praktis yang diperoleh dari pengalaman langsung, jaringan yang mereka bangun, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan (Santoso, 2019). Kesuksesan ini menunjukkan bahwa meskipun pendidikan formal memberi banyak keuntungan, pengalaman hidup, keterampilan praktis, dan kesempatan untuk belajar secara mandiri juga memainkan peran yang sangat penting dalam pencapaian kesuksesan.

Dalam banyak kasus, individu yang tidak memiliki pendidikan formal yang tinggi berhasil mencapai kesuksesan berkat keterampilan praktis yang mereka peroleh melalui pengalaman langsung dan pengembangan diri. Mereka belajar melalui trial and error, mengatasi tantangan, dan mengambil pelajaran dari kegagalan mereka. Keterampilan ini, meskipun tidak diajarkan di kelas, sering kali menjadi kunci utama dalam meraih kesuksesan, terutama di sektor kewirausahaan dan industri kreatif (Santoso, 2019). Pengalaman ini memungkinkan individu untuk mengembangkan ketahanan mental, keterampilan teknis, dan kemampuan untuk berinovasi, yang pada gilirannya membuka peluang kesuksesan.

Selain keterampilan praktis dan pengalaman, jaringan sosial juga berperan penting dalam pencapaian kesuksesan. Individu yang memiliki jaringan sosial yang luas dan solid sering kali dapat memperoleh dukungan, peluang, dan informasi yang sangat bermanfaat. Jaringan ini bisa membuka pintu bagi peluang kerja, kolaborasi, atau bahkan investasi untuk memulai usaha (Santoso, 2019). Oleh karena itu, memiliki keterampilan dalam membangun dan memelihara hubungan sosial adalah faktor penting yang dapat mendukung kesuksesan, meskipun tidak selalu didapatkan melalui pendidikan formal.

Selain pendidikan formal, pendidikan non-formal juga memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan keterampilan dan pengetahuan yang berguna untuk mencapai kesuksesan. Pendidikan non-formal sering kali lebih terfokus pada keterampilan praktis yang langsung diterapkan dalam dunia kerja, seperti kursus keterampilan, pelatihan vokasi, dan workshop. Pendidikan jenis ini memungkinkan individu untuk mengembangkan keterampilan yang spesifik sesuai dengan kebutuhan industri dan memperkuat kemampuan mereka dalam menjalani profesi atau usaha yang mereka geluti (Mustofa, 2020). Oleh karena itu, pendidikan non-formal memberikan jalur alternatif bagi mereka yang ingin mengembangkan diri dan meningkatkan kesempatan untuk mencapai kesuksesan.

Di dunia kewirausahaan, kesuksesan sering kali bergantung pada kemampuan untuk berinovasi, mengambil risiko yang terhitung, dan mengelola usaha dengan baik, bukan hanya pada tingkat pendidikan formal. Banyak pengusaha sukses yang tidak memiliki gelar pendidikan tinggi, tetapi mereka memiliki kemampuan untuk memahami pasar, memanfaatkan peluang, dan mengelola sumber daya secara efektif (Santoso, 2019). Inovasi dan kreativitas menjadi kekuatan pendorong utama bagi para wirausahawan ini, memungkinkan mereka untuk berkembang meskipun tidak memiliki pendidikan formal yang tinggi.

Meskipun banyak contoh individu sukses tanpa pendidikan formal yang tinggi, penting untuk dicatat bahwa mereka sering kali menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mencapai tujuan mereka. Tanpa pendidikan formal, individu mungkin kesulitan untuk mengakses beberapa jenis pekerjaan atau peluang yang membutuhkan kualifikasi tertentu. Selain itu, mereka mungkin menghadapi hambatan dalam hal pengakuan kredibilitas atau status profesional yang umumnya diberikan kepada mereka yang memiliki gelar akademis (Mustofa, 2020). Meskipun demikian, mereka yang berhasil mengatasi hambatan ini menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu bergantung pada gelar pendidikan.

Pendidikan memiliki kemampuan untuk membuka potensi individu dan membantu mereka mengenali bakat dan minat mereka yang sesungguhnya. Melalui proses pendidikan, individu dapat mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang diri mereka sendiri, serta mengeksplorasi berbagai bidang yang mungkin belum mereka pertimbangkan sebelumnya. Oleh karena itu, pendidikan membantu individu menemukan jalur mereka sendiri menuju kesuksesan, baik itu melalui profesi yang mereka pilih maupun melalui usaha pribadi yang mereka bangun (Santoso, 2019). Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berfungsi untuk mempersiapkan individu untuk pekerjaan tertentu, tetapi juga untuk membantu mereka menemukan potensi terbaik dalam diri mereka.

Motivasi menjadi faktor lain yang berperan dalam pencapaian kesuksesan. Individu yang memiliki motivasi tinggi untuk mencapai tujuan mereka cenderung lebih gigih dalam menghadapi rintangan dan lebih kreatif dalam mencari solusi. Motivasi ini dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk keinginan untuk memperbaiki kondisi kehidupan, ambisi pribadi, atau pengaruh dari lingkungan sekitar (Mustofa, 2020). Oleh karena itu, meskipun pendidikan memberikan fondasi yang baik, faktor internal seperti motivasi dan tekad tetap menjadi kunci kesuksesan.

Selain keterampilan teknis dan pengetahuan, keterampilan sosial juga sangat penting dalam mencapai kesuksesan, terutama dalam dunia kerja yang semakin global dan terhubung. Kemampuan untuk bekerja dalam tim, berkolaborasi dengan berbagai pihak, dan berkomunikasi secara efektif menjadi faktor pembeda yang penting dalam mencapai tujuan. Pendidikan formal maupun non-formal dapat memberikan platform bagi individu untuk mengasah keterampilan sosial ini, yang nantinya akan sangat berguna dalam interaksi profesional mereka (Santoso, 2019).

Pendidikan juga berperan dalam membantu individu membuat keputusan yang lebih baik, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Melalui pendidikan, seseorang belajar untuk menganalisis situasi, mempertimbangkan berbagai opsi, dan membuat keputusan berdasarkan informasi yang tersedia. Kemampuan untuk membuat keputusan yang baik sangat penting dalam meraih kesuksesan, karena keputusan yang salah dapat menyebabkan kerugian dan kegagalan (Mustofa, 2020). Dengan demikian, pendidikan memainkan peran penting dalam membantu individu menjalani kehidupan yang lebih baik dan meraih kesuksesan.

Pendidikan, baik formal maupun non-formal, memainkan peran penting dalam mempersiapkan individu untuk mencapai kesuksesan. Namun, pendidikan formal bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Keterampilan praktis, pengalaman, jaringan sosial, dan motivasi internal juga mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam mencapai tujuannya. Meskipun pendidikan memberikan dasar yang kuat, kesuksesan sering kali ditentukan oleh kemampuan individu untuk beradaptasi, berinovasi, dan memanfaatkan peluang yang ada (Santoso, 2019).

Analisis
Meskipun pendidikan formal dapat memberikan landasan yang kuat untuk mencapai kesuksesan, faktor-faktor lain seperti pengalaman praktis, keterampilan interpersonal, dan jaringan profesional juga sangat penting. Oleh karena itu, pendekatan holistik yang menggabungkan pendidikan formal dan pengembangan keterampilan non-formal dapat meningkatkan peluang seseorang untuk mencapai kesuksesan (Suryadi, 2018).

Kesimpulan

Hubungan antara kondisi ekonomi, tingkat pendidikan, dan tingkat kesuksesan adalah dinamis dan saling memengaruhi. Kondisi ekonomi yang baik memberikan akses yang lebih besar terhadap pendidikan berkualitas, yang pada gilirannya meningkatkan peluang untuk mencapai kesuksesan. Sebaliknya, keterbatasan ekonomi dapat menjadi hambatan dalam mengakses pendidikan yang layak, yang dapat mengurangi kesempatan individu untuk berkembang secara maksimal. Namun, pendidikan bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan kesuksesan. Meskipun pendidikan formal memberi landasan yang kuat, banyak individu yang berhasil mencapai kesuksesan meskipun tidak memiliki pendidikan formal yang tinggi, berkat keterampilan praktis, pengalaman, dan kemampuan beradaptasi yang mereka miliki.

Kesuksesan, pada akhirnya, tidak hanya bergantung pada tingkat pendidikan atau kondisi ekonomi awal seseorang, tetapi juga pada faktor-faktor seperti motivasi, jaringan sosial, dan keterampilan praktis yang dikembangkan sepanjang perjalanan hidup. Oleh karena itu, meskipun ekonomi dan pendidikan memainkan peran penting dalam pencapaian kesuksesan, kemampuan untuk mengatasi hambatan, berinovasi, dan memanfaatkan peluang juga sangat berpengaruh dalam menentukan tingkat keberhasilan individu. Kesimpulannya, keberhasilan seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, dan meskipun kondisi ekonomi dan pendidikan memiliki dampak besar, faktor internal seperti tekad, motivasi, dan keterampilan praktis tetap menjadi penentu utama kesuksesan.

Daftar Pustaka
Hidayat, R. (2017). Hubungan konsep ekonomi dan pendidikan dalam pembangunan sosial ekonomi. Jurnal Akuntansi, Manajemen dan Ekonomi, 9(3), 45-60.
Mustofa, A. (2020). Pendidikan sebagai alat mobilitas sosial: Perspektif ekonomi dan sosial budaya. Bandung: Pustaka Rakyat.
Santoso, B. (2019). Ketimpangan ekonomi dan dampaknya terhadap akses pendidikan. Surabaya: Media Edukasi.
Suryadi, T. (2018). Pendidikan, ekonomi, dan kesuksesan: Sebuah tinjauan empiris. Jakarta: Gramedia.